Saturday, February 6, 2010

Vinny dan Venus

CHAPTER I
Vinny : The Introduction

Vinny, tujuh belas tahun. Pembangkang. Keras kepala. Suka main-main dalam segala hal. Sanguinis Populer. Sejak kecil, hidupnya bergelimang harta. Seperti layaknya keluarga `sok' modern, orientasi orang tuanya tak lebih dari sekedar materi. Kasih sayang, hanya sekedar normalitas, juga dalam bentuk materi.
Vinny tumbuh dan berkembang dengan semaunya. Tumbuh bersama susu kaleng dan timangan baby-sitter. Ia gadis. Ia seorang perempuan. Kuntum yang mekar di usia ke-enam belas. Menawan. Membuat mata setiap
pemuda tak pernah melewatkannya. Prestasi. Tanyakan pada Vinny, ia tahu segalanya. Walking Dictionary, kata mereka. Organisasi. Jangan heran. Kharisma, itu ia miliki. Saat ia diam, semua diam. Saat ia tertawa, semua tertawa. Venus, itu julukan dari para `fans'. The Goddess.

Suatu malam, sebuah villa di Tretes
tiga hari setelah ulang tahun Vinny yang ke-tujuh belas....

"Waaahh.. Vinny seksi!" Hilda bersorak-sorak, tangannya menarik celana dalam si gadis sampai ke bawah pantat. Vinny menjerit. Sambil tertawa membalikkan tubuhnya. Mereka berdua bergulat di atas tempat tidur. Terkekeh dan saling gelitik. Erna, Lusi dan Tia tertawa dari jauh. Mereka ngga mau ikutan. Risih. Beberapa saat kemudian, Vinny bangkit dengan nafas tersengal.
"Hhh...hhh... beratnya memperkosa wanita," senyumnya. Gadis-gadis itu tertawa lagi. Hilda tampak ngos-ngosan sambil terlentang tak berdaya.
"Vinny dahsyat," Hilda mendesah.

Pajamas Party. Situasi yang menyenangkan. Ajang kumpul cewek. Gossip, canda, dan segala macam yang `di rumah dilarang ortu'. Seperti yang mereka lakukan malam itu. Vinny, dan keempat sahabatnya.
Lengkap sudah persiapan mereka. Tiga botol Vodka. Dua bungkus Capri. Dan video porno. Semua ini tak lain adalah ide Vinny, si bengal. Lima puluh ribu perak, maka Sardjono, si tukang jaga villa, bisa menghabiskan malam di Pandaan, bersama isterinya. Gadis-gadis bebas. Tanpa kompromi. Biasanya, sih, pada bikin dosa.

"Vinny, dadaku sakit," Hilda mengeluh, memencet buah dada kirinya yang tadi tertindih sikut. Yang lain pada mesam-mesem. Vinny mengggerutu.
"Gitu aja sakit. Nanti kalau diremas cowok, rasanya lebih dari itu, tahu?"
"Gimana, Vin?" tanya Erna sambil cengengesan.
Vinny menekuk jemarinya, membuat gerakan meremas udara.
"Nyam," bisiknya, lalu mengambil jeda. "Enak, bow."
Yang lain pada cekikikan. Tia sampai terbatuk, batang rokoknya terjatuh-maklum, baru pertama kali mencoba.
"Tapi," Vinny berkata, "kalian tahu ngga apa yang paling enak?"
"Apa?" tanya Hilda, masih juga memijati dadanya.
Vinny memandang ke arah sahabat-sahabatnya. Gayanya sok misterius. Lalu dengan tersenyum ia mendesis, "Burungnya cowok. Dahsyat!" Teman-temannya kontan tergelak.
"Emang kamu tahu, Vin?" tanya Lusi, setelah tawanya berhenti. Vinny nyengir.
"Yeh, kalau ngga tau ngapain bisa bilang enak?"
"Waaahh," keempat gadis yang lain berseru.
Vinny membusungkan dadanya yang indah. Menekan dengan jari telunjuk, salah satu buah dadanya. "Dari sini, nih," katanya, "kurang ada rasanya."
Lalu gadis itu mengarahkan telunjuknya ke depan selangkangan.
"Nah, yang di sini," cengirnya, "baru kerasa enaknya."
"Wah," seru Tia melongo, "sama siapa, Vin? Si Emon?"
"Emon?" Vinny menyebut nama pacar terakhirnya, yang sudah ia tinggalkan tepat sehari sebelum hari ulang tahunnya. Jarinya menjentik.
"Emon tuh, burungnya cuman se-upil! Nggak enak! Ancur!"
"Hihihihi."
"Wah, Vinny gokil!"
"Masa sih? Emon yang itu tuh?"
"Bohong, pasti!"

Vinny menoleh ke arah Erna, yang barusan saja menuduhnya berbohong. Pandangannya tajam, tapi bibirnya tersenyum nakal.
"Bohong? Bohong yang mana? Yang seupil itu?"
"Bohong kalau kamu tahu rasanya! Emang kamu berani?" Erna menjawab, menuduh. Vinny menarik kepalanya ke belakang dan tertawa. Begitu kepalanya turun, matanya memandang tak berkedip ke arah teman-temannya.
"Aku akan buktikan!"
keempat gadis yang lain memandang kebingungan.
Vinny bangkit berdiri. Saat itu ia hanya mengenakan kemeja panjang sepaha. No bra. Hanya celana dalam krem bergambar Snoopy. Gadis itu melangkah menuju lemari pakaian di sudut kamar. Matanya melirik ke arah sahabat-sahabatnya, saat tangannya terulur ke dalam lemari.
"Wah!"
"Gila si Vinny!"
"Waduh! Waduh!"
"Hihihi!"
Gadis-gadis itu langsung ribut, saat Vinny mengeluarkan sebuah penis imitasi dari dalam lemari. Vibrator. Seri LO-374. Bisa getar dan goyang. Impor dari Jepang. Lebih sering digunakan dalam pembuatan film porno.
"Aku ngedapetin ini dari lemarinya tanteku," Vinny berkata, sambil melangkah ke tengah sahabat-sahabatnya. Erna, Tia, Lusi dan Hilda langsung mengambil posisi. Mereka tak ingin kelewatan.
"Vin, jangan ah. Bahaya," ucap Hilda sembari meringis.
Yang lain menganggukkan kepala. Vinny hanya menyeringai.
Gadis itu lalu duduk dan melebarkan kaki. Gadis-gadis di sekitarnya memperhatikan dengan wajah tegang. Perlahan, Vinny turunkan vibrator itu, sampai ke depan selangkangannya.
"Kenapa?" tanya si gadis, "Kalian ngga pingin bukti?"
Tak ada sahutan. Semuanya berdebar melihat vibrator di tangan Vinny.
"Hehehe," Vinny terkekeh.
Dengan satu jari, gadis itu menyingkap celana dalamnya. Hilda memekik tertahan. Lusi cekikikan. Sementara Erna dan Tia hanya melongo. Vinny terlihat cuek, walaupun kemaluannya terlihat dengan jelas di depan mata sahabat-sahabatnya. Dasar bengal.

Pelan-pelan, Vinny mendekatkan ujung vibrator itu ke bibir kemaluannya.
"Ahhhhh," Vinny menarik kepalanya ke belakang. Mendesah saat ujung vibrator itu perlahan melesak masuk. Gadis-gadis yang lain menahan nafas. Mata mereka membeliak, saat melihat bibir kemaluan Vinny yang membuka. Vinny menekan pangkal vibrator, hingga masuk hampir setengahnya. Wajah gadis itu menunjukkan sebuah kenikmatan. Pegangannya pada pangkal vibrator lalu dilepaskan. Suasana hening benar saat itu. Seperti ada setan lewat. Vibrator itu menancap. Gerakan-gerakan kecil lalu terlihat. Vinny menggunakan ototnya, memainkan bagian vibrator yang masuk ke dalam.
"Hhhhh," Vinny mendesah nikmat.

"WAAA!! DORRR!!" Vinny mendadak menarik kepalanya ke depan dan berteriak. Gadis-gadis di sekitarnya terkejut setengah mati. Hilda nyaris terguling dari kasur.
"Gilaaaaa!!"
"Vinny!! Sinting kamu!"
"Ngga ikutaaaann!!!"
"Huaaaaaa!!! Apaan!!"
Histeria massal terjadi. Vinny tergelak.
"Eeeee," gadis itu menyela, "ini belum seberapa enaknya."
Yang lain terdiam. Menunggu sambil tersenyum-senyum. Di mata Vinny, gadis-gadis sahabatnya itu terlihat penuh nafsu. Si gadis menyeringai. Vinny meraih kabel yang tersambung dengan pangkal vibrator. Jemarinya meraih tombol kecil di ujung kabel. Ctik! Rrrrrrrrrrr....rrrr..... Sahabat-sahabatnya memandang dengan takjub, saat vibrator itu mulai bergetar. Bagian pangkalnya yang berbentuk scrotum tampak bergoyang-goyang. Vinny menutup matanya. Bibirnya setengah terbuka. Kedua tangannya segera merengkuh buah dadanya sendiri. Memijat dan meremas.
"Aahhh...hhh...ngg....," desahan dan erangan nikmat keluar dari bibirnya.
Delapan mata menatap. Empat tubuh panas dingin.
Sepuluh menit kemudian, tubuh Vinny bergetar. Keringat tampak keluar dari pelipisnya. Satu erangan tertahan, Vinny mengejang. Ujung kakinya tertarik lurus. Bulu-bulu halusnya berdiri. Pori-pori kulitnya mengerut. Klimaks.
Hening.

Vinny menarik keluar vibrator dari dalam kemaluannya. Perlahan, begitu menikmati. Delapan mata masih memandang. Sejuta perasaaan bertempur dengan norma-norma. Vinny menghela nafas. Memejamkan mata. Saat membukanya kembali, gadis itu tersenyum. Wajahnya tampak lelah.
"Bagaimana?"
Sahabat-sahabatnya bagaikan terbetot dari alam mimpi. Menghembuskan nafas panjang, cermin kelelahan hati dan pikiran mereka. Jantung masing-masing masih terasa berdebar. Tak sadar, nafsu mulai menggerogoti benak mereka.
"Vin," Erna berbisik, "kamu sudah ngga perawan...."
Vinny mendengus, "Sudah sejak aku lima belas tahun."
Hilda menggeleng-gelengkan kepala, "Sama siapa, Vin?"
"Sama ini," Vinny mengacungkan vibrator yang masih terlihat mengkilat. Teman-temannya melongo. Vinny tertawa. Akhirnya mereka berlima tertawa berbarengan.
"Vin, kamu ngga takut ngga dapat suami?" tanya Lusi.
Sambil tersenyum, Vinny bangkit berdiri. Membetulkan letak celana dalamnya. Memandang nakal, si bengal tersenyum.
"Ada caranya kok. Biar tetap perawan."
"Ha?"

Malam itu. Tiga gadis kehilangan keperawanannya. Hilda memilih untuk melihat saja. Teman-temannya mengejek, tapi Hilda berkutat. Masih waras.

Vinny mengakhiri pertemuan binal itu keesokan harinya, sebelum mereka pulang, dengan menegaskan satu hal:
"Kalau dalam pacaran. Ingat. Kesetiaan adalah sesuatu yang utama. Boleh nakal. Boleh mainin cowok. Tapi jangan mendua. Itu bisa jadi kesalahan fatal. Begitu kalian mendua, maka, jika suatu saat cowok kalian sadar kalau kalian sudah tidak..ehm...maka kalian takkan bisa melarikan diri dari tuduhan. Dia bisa buta, namun dunia kan tidak?" Tak ada satupun yang tidak menganggukkan kepala. Vinny tersenyum. Di mata sahabat-sahabatnya, si gadis tetap nomor satu. Guru masalah bandel-bandelan. Guru tentang lelaki. Guru tentang segalanya. Tapi tetap sosok yang baik dan layak ditiru.

-o-

CHAPTER II
Vinny : The first encounter...

"Stop, Jo! Stop! Jangan!" Vinny merintih. Air keluar dari sudut matanya. Pemuda yang menggelutinya menarik tubuh. Wajahnya terliha pucat dan basah oleh keringat.
"Sori, Vin. Sori. Maaf," pemuda itu berkata tergagap. Si gadis balikkan tubuh, menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Vin? Vin? Kamu nggak apa-apa, Vin?" Johan menarik pundak kekasihnya. Si gadis tak melepaskan telapak tangan. Bahunya berguncang. Ia menangis.
Johan kebingungan. Cepat-cepat pemuda itu angkat tubuhnya dari atas tubuh si gadis. Jemarinya dengan gugup membetulkan kancing baju si gadis yang sudah terlepas seluruhnya. Matanya masih menangkap dua gumpalan buah dada yang begitu menantang menyembul dari balik bra si gadis yang setengah tersingkap. Membulatkan tekad, melandaskan semuanya atas nama kasih sayang, Johan memalingkan mata.
Si gadis masih terisak.
"Jo...kamu tega.....," isak Vinny dari balik telapak tangannya.
"Vin, aku ngga maksud begitu. Vin! Sudah dong."
Vinny melepaskan telapak tangannya. Wajahnya terlihat merah dan basah. Johan menghela nafas. Betapa ia mencintai gadis yang satu ini. Pemuda itu jatuhkan kepalanya di dada si gadis.
"Sori, Vin. Aku sayang kamu. Aku ngga bakal ngerusak kamu."
Vinny, masih terisak, turunkan tangannya. Jemarinya menyisiri rambut si pemuda yang ikal.
"Jo. Vinny ngga apa-apa kalau hanya sebatas sentuhan. Tapi jangan yang lain ya, Jo. Nanti kalau kita menikah, Vinny janji kasih Jo semuanya."
Johan mengangguk lemah. Hasratnya ditindih. Sekejap pemuda itu merasa membenci dirinya sendiri. Vinny begitu manis. Seharusnya ia sudah puas dengan ijin si gadis untuk menyentuhnya dari luar. Tak perlu pakai acara buka pakaian. Tak perlu. Ia harus bersabar. Ia akan mencintai gadis ini. Sepenuh perasaannya.
"Aku sayang kamu, Vin."
"Vinny tahu, Jo. Vinny tahu."

Malam itu Johan pulang setelah mengantar Vinny ke rumah, dengan membuang hasratnya jauh-jauh. Satu kecupan yang lembut dari Vinny di keningnya. Bukan di bibir. Suatu tanda sayang, tanpa nafsu. Johan terharu. Gadisnya kali ini, begitu berbeda. Gadis yang tak ingin disentuhnya. So sweet. Begitu manis.
Pria yang bisa segalanya. Mampu mendapatkan wanita manapun.
Johan merasa, sudah waktunya untuk berhenti. Pelabuhannya sudah tampak di depan mata. Vinny. Gadis itu cantik, pandai, dan begitu lembut. Jatuh cinta.
Dalam perjalanan pulang Johan membayangkan, kehidupan rumah tangga yang harmonis bersama Vinny. Saat-saat dimana mereka akan hidup berdua. Penuh kasih sayang dan cinta. Senyuman yang mengiringinya dalam mimpi-mimpi indahnya nanti malam.

"Dasar bego," Vinny mencibir, si pemuda mobil itu menghilang dari pandangan.
Jemarinya memainkan rantai emas yang diberikan Johan sebagai tanda permintaan maafnya. Pria memang biasa begitu. Melakukan apapun, asal si gadis mau memaafkan. Bahkan dengan memberikan rantai emas pemberian ayahnya.
Sampai di kamar, Vinny melemparkan kalung emas itu ke atas meja rias. Ia bukan cewek matre. Ia hanya keranjingan untuk disentuh.
Dan... menguasai.

-o-

beberapa hari kemudian....

"Kamu cantik sekali," Johan berkata dari depan pintu. Vinny tersenyum.
"Makasih," katanya, lalu mengecup pipi si pemuda. Johan tertawa.
Tak berapa lama kemudian, mereka sudah berada dalam perjalanan menuju K-Club. Malam itu, mereka akan berpesta. Hilda, sahabat Vinny, akan merayakan pesta ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Semua teman-temannya diundang. Bukan pesta besar-besaran, seperti yang diselenggarakan ayah Vinny, tapi cukup meriah. Band metropolis diundang untuk meramaikan. Tempat dibuka untuk umum. Yang pasti, semua akan merasakan kegembiraan di sana.

Pukul sembilan, pesta sebenarnya mulai berlangsung. Orang tua Hilda dan Bapak Wali Kelas sudah undur diri. Mereka tahu, selama mereka masih ada, bocah-bocah ABG itu takkan bisa menikmati apapun. Vinny dan Johan datang tepat pukul sembilan lebih lima belas. Vinny yang memintanya demikian, sebab gadis itu tak ingin melihat acara yang bertele-tele. Johan hanya manut saja, persis kerbau dicucuk hidungnya.

Suasana terlihat begitu ramai saat mereka masuk. Penuh sesak dengan orang-orang. Baik yang mereka kenal, maupun yang tidak. Vinny langsung menyusup di antara sesaknya pengunjung K-Club. Mencari Hilda, tak mengacuhkan Johan yang tertinggal di belakangnya. Para pengunjung pria memandang penuh rasa ingin tahu saat sang Venus melintas.
"Itu Vinny."
"Anak SMA X."
"Wah, cakepnya."
Vinny tak perduli. Sudah biasa. Matanya menemukan Hilda dan sahabat-sahabatnya di sisi seberang. Deretan belakang DJ. Vinny melambaikan tangannya, membuat beberapa pria mendesah tatkala menyaksikan kemulusan kulitnya.
"Hildaaaa! Met ultah!" Vinny berseru sambil mengecup kedua pipi sahabatnya.
"Vinny. Makasih," Hilda balas merangkul. Saat itu Johan sudah sampai, langsung mengulurkan tangannya. Hilda memanggil waiter dan memesan satu pitcher bir lagi untuk menyambut kedatangan Vinny dan Johan. Vinny mendudukkan tubuhnya di samping Hilda, sementara Johan terpaksa berdiri karena tempat sudah tak ada lagi.
Sekejap kemudian, Vinny, Hilda, dan gadis-gadis lain yang berkumpul di tempat itu terlibat dalam perbincangan yang seru. Johan, dan para pemuda lainnya hanya menyaksikan dari belakang. Yah, pemuda memang tak bisa apa-apa saat kekasih mereka sedang berkumpul dengan sahabat- sahabatnya.
Gadis-gadis itu sendiri, pasti sudah lupa kalau mereka tak datang sendiri.
Gossip dan rumpi pun mulai unjuk gigi.
"Kamu bawa siapa tuh, Na. Keren juga."
"Hihihi. Itu kan si Hendra anak SMA XX."
"Masa? Kok jelek gitu."
"Jangan gitu, dong. Itu namanya menghina."

Mendadak DJ mengoceh lewat pengeras suara.
"K-Club! Welcome everybody to the hottest Saturday night party in Surabaya! And now, Ari presenting..."
Si DJ berhenti sejenak, musik mengalun dalam bit lebih cepat.
"...Ray!! The hottest guy tonight! Welcome, my Bro!!"
Terdengar suara seruan dari beberapa sudut.
Hilda bangkit berdiri. Matanya mencari-cari.
"Siapa, Da?" tanya Tia. Sahabat-sahabatnya yang lain juga mencari-cari.
Vinny menoleh, dan melihat Johan sudah menghilang dari belakangnya. Tak berapa lama, Hilda melangkah keluar dari kerumunan sahabatnya. Kedua lengannya terbuka saat menyambut seorang pemuda yang datang sambil cengar-cengir. Seorang pemuda dengan rambut yang unik. Jabrik, tapi ada beberapa helai rambut yang terjatuh sampai ke dagunya. Baju pemuda itu terkesan asal-asalan, hanya kaus oblong dan celana teropong. Sepatu jalan adidas hijau lusuh menjadi alas kaki. Gadis-gadis yang sejak tadi memperhatikan langsung heboh.
"Hah? Itu kan Ray-nya SMA XXX???"
"Astaga!! Kok Hilda kenal dia?"
"Wuih? Ray? Ray yang itu?"
"Ha? Si hidung belang??"
"Kereeennn!!!"

Mata Vinny menyipit.
Ray? Ray yang itu? Mengulang pendengarannya, pikirannya berkecamuk. Bukannya ia tak tahu tentang reputasi sang pemuda.

-o-

"Raaay! Aku tunggu-tunggu dari tadi," Hilda berkata dengan nada manja. Ray, yang memang baru saja ngebut gara-gara ketiduran, hanya nyengir. Pemuda itu lalu merangkul si gadis.
"Met ultah, Da," bisik si pemuda. Hilda merasa wajahnya memerah.
"Aku terlambat, karena ini....," lanjut si pemuda. Mendorong tubuh Hilda agak menjauh, pemuda itu rogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari beludru warna biru. Hilda terkesiap. Sahabat-sahabatnya juga. Ray menyodorkan kotak biru itu pada si gadis, yang dengan ragu-ragu mengambilnya.
"Buka! Buka!" sahabat-sahabat Hilda mulai ribut.
Hilda merasa wajahnya panas. Dengan sedikit gemetar, gadis itu membuka kotak.
"Ha? Kok Combantrin? Sebiji pula?" si gadis berbisik sambil meringis.
Kontan saja semua orang yang mendengar tergelak.
Ray, sambil cengengesan berkata, "Biar tambah gemuk."
Hilda mengangkat lengannya dan memukul dada Ray.
"Tegaaa!!" Yang lain tertawa lagi. Tapi Ray meraih pergelangan si gadis.
"Ini juga buat kamu," bisiknya sambil tersenyum, lalu tanpa malu-malu mengecup kening gadis di depannya. Kontan saja yang lain bersorak sorai. Romantis sekali. Hilda terbang ke awan.

Setelah itu, Ray berbalik, menatap kerumunan pemuda di belakangnya.
"Lho??" serunya, "Jita? Hendra? Lucky? Lhah, kok kalian di sini?" Pemuda-pemuda yang sejak tadi cengengesan itu langsung ribut sendiri. Semua kenal Ray. Si badung dari SMA XXX. Siapa lagi yang paling suka sok akrab dengan mereka hanya untuk memperoleh imformasi dunia cewek? Ray langsung mengakrabkan diri, membiarkan gadis-gadis sahabat Hilda memendam kekecewaan dalam hati. Siapa sih yang ngga pingin kenal sama Ray? Bahkan sang Venus sendiri, meruncingkan bibir. Sejak tadi ia memiringkan tubuhnya dan tersenyum semanis-manisnya. Jangankan memandang, menoleh saja pemuda itu tidak.

-o-

Lalu Johan datang.
Vinny sedikit terkejut saat melihat Ray dan Johan saling berangkulan.
"Ya nggak, Vin?"
"Hah?" Vinny terkejut, "Apanya?"
"Si Ray itu. Ngga boleh dekat-dekat sama Hilda kita."
Vinny tertawa.
"Cowok kayak gitu saja, loh. Ngapain ditakutin."
Nadanya sedikit keras, berharap si pemuda mendengar. Gadis-gadis itu tertawa. Vinny menoleh, hendak menyaksikan reaksi si pemuda. Tapi ternyata pemuda itu sudah menghilang bersama yang lain-lain. Vinny mendengus kesal.
"Brengsek," makinya sambil berbisik.
Very humiliating.

Tak ada orang yang tak mengacuhkan Venus, lalu menghilang begitu saja, dan selamat....
Benak si gadis bekerja. Sel-sel kelabunya berdenyut.
"Come, Hastings! Do better than that!"

-o-

CHAPTER III
Vinny : One step to revenge

three weeks after the party....

"Vin...," Johan melumat bibir gadisnya dengan lembut. Vinny membalas. hari itu tepat empat bulan lamanya mereka berhubungan. Sebuah acara makan kecil-kecilan, seperti yang biasa mereka lakukan setiap tanggal sebelas. Malam itu di rumah Johan. Sepi dan remang. Romantis. Tak ada seorangpun, semua sedang liburan ke Bali kecuali Johan. Menghabiskan waktu bersama Vinny, itu menjadi keinginannya.
Pelukan si pemuda semakin erat. Vinny memejamkan mata. Tersenyum dan menggigit bibir si pemuda.
"Jangan nakal, ya?" bisik si gadis. Johan menyeringai.
"Sekali saja," pintanya. Vinny tak menjawab. Bibir Johan kembali menempel. Mereka berpagutan. Perlahan tapi pasti, jemari Johan mulai merambat. Menelusuri pundak Vinny, lalu meraba lehernya. Kemudian satu jari turun ke bawah. Vinny mendesah dan menggeliat. Tapi tak menolak.
Satu jari sudah menyusup masuk. Menekan gumpalan daging kenyal. Johan mulai berkeringat. Pemuda itu tarik tangannya, lalu dengan cepat berusaha membuka kancing baju si gadis. Vinny hanya diam. Menunggu dan menunggu.
Bibir Johan menelusuri dagu si gadis. Mengecupi kulit lehernya yang mulus tanpa cacat. Jemarinya mulai meremas dan memijat.
"Ahhh," Vinny mendesah lagi. Tak membuka mata. Johan semakin liar. Satu tarikan, rok yang dikenakan Vinny terangkat ke atas. Memperlihatkan paha yang indah. Johan menarik nafasnya dalam-dalam. Nafsu sudah menguasainya.
"Vinny...," bisiknya. Jawaban si gadis hanya sebuah pagutan di bibir. Hati Johan bersorak. Inilah saatnya! Yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Jarinya mulai menelusuri paha si gadis. Berusaha menemukan tempat-tempat yang dianggapnya sensitif bagi si gadis. Berharap si gadis ikut hanyut bersamanya. Satu tekanan di selangkangan Vinny. Gadis itu mengerang tertahan. Pagutan di bibir Johan mengeras. Lengan si gadis rangkul pundak Johan. Memeluk lebih erat.
"Jo, aku takut," bisik Vinny tiba-tiba. Johan menghentikan gerakan jemarinya.
"Vin, aku sayang kamu," bisik si pemuda. Tak ingin melepaskan segalanya.
Vinny menyusupkan kepalanya di leher si pemuda. Tanda kepasrahan.

Bugil. Kedua anak manusia itu sudah dalam kondisi telanjang. Vinny mengerutkan wajahnya. Mendesah. Johan menggeliat di atasnya. Keringat membasahi tubuh si pemuda, seiring nafsu yang membuatnya melayang. Batang kemaluan si pemuda gesek kemaluan si gadis. Petting. Khas anak muda di jamannya.
"Vin..ahh....," Johan memanggil nama kekasihnya. Satu keinginan yang menguasai benaknya. Ia ingin bercinta. Ia ingin merasakan kenikmatan itu. Vinny tak menyahut. Johan tak tahan lagi. Pemuda itu susupkan tangannya ke bagian bawah tubuhnya. Meluruskan posisi batang kemaluannya dan... menekan. Mendadak Vinny membuka mata. Meringis sambil mengerutkan alis.
Plak!! Satu tamparan telak melayang ke wajah si pemuda. Johan merasa pandangannya berkunang. Pemuda itu menggulingkan tubuhnya ke samping, Terjatuh ke lantai dari atas sofa yang lembab. Mengelus pipi, pemuda itu tatap wajah gadisnya.
Vinny menatap. Ada hawa yang dingin di sana.
"Vin," Johan berbisik, mengelus pipinya yang perih. Gadis itu tak menjawab.
Beberapa saat memandang, Vinny mengangkat tubuhnya. Tangannya terulur, meraih bra dan celana dalamnya yang tergeletak di depan Johan. Pemuda itu hanya memandang. Tak tahu harus berbuat apa. Vinny mengenakan kembali pakaian dalamnya. Kemeja dan rok menyusul. Tatapan Johan tak beralih. Pemuda itu juga tidak berusaha mengenakan kembali pakaiannya. Si gadis raih tas kulit kecilnya. Pencet tombol-nomor taksi. Tanpa menoleh, si gadis lalu berdiri dan melangkah ke luar rumah. Johan seolah tersadar dari mimpi buruk.
"Vin!" pemuda itu berteriak memanggil, bergegas meraih pakaiannya.

Johan menemukan Vinny tengah duduk di teras rumah. Pemuda itu mendudukkan tubuhnya di sebelah si gadis. Matanya menatap.
"Vin. Aku minta maaf," bisik si pemuda. Sedikit merasakan penyesalan itu.
Vinny hanya mendengus sambil tersenyum.
"It's all over, Jo."
"Vin..."
"Kamu ngga bisa nahan."
"Tapi.. kamu..."
Vinny mendadak menoleh. Menatap mata pemuda itu dalam-dalam.
"Kamu lemah."
Johan terdiam. Berjuta pemikiran meracau di benaknya. Saat itu terdengar klakson dari luar pagar. Sebuah taksi berwarna putih di sana.
"Vin. Aku saja yang antar pulang."
"Dan membuang duitku? No, thanks."
Vinny bangkit berdiri dan melangkah. Johan cepat-cepat mengulurkan lengannya, meraih pergelangan tangan si gadis.
"Vin!"
"Jo, lepaskan. Sakit!" Vinny mengeluh sambil meringis. Johan melepaskan genggamannya. Matanya terpaku menatap punggung si gadis yang berlalu. Teringat dia akan segala sesuatu yang pernah didengarnya-yang semula disangkanya tak mungkin dimiliki oleh gadis semanis Vinny. Gadis itu.....
Venus!!

Johan berlari. Mendapatkan taksi yang masih belum melaju. Kepalannya menghantam jendela belakang.
"Vin!! Setan kamu!! Kamu sengaja!! Vin!! Tega!! Selama ini!?!" Jendela turun. Hanya sedikit. Johan bisa melihat seringai itu di wajah si gadis.
Seringai kegelian, kenakalan. Tak pernah tampak sebelumnya.
Secarik kertas melayang keluar. Jatuh di aspal kotor.
Taksi berlalu. Meninggalkan Johan dengan segala rasa di hatinya. Pemuda itu jumput jertas di atas aspal.
"Empat bulan," bisiknya. Hatinya penuh dendam.
Vinny yang selama ini begitu manis. So sweet. Begitu lembut. Tak pernah salah.
Gadis yang sudah membuatnya merasakan cinta sepenuhnya. Yang sudah membuatnya takluk. Menyerahkan seluruhnya. Vinny.....

...Pria (begitu bunyi surat yang dibaca Johan)...
..................begitu kalian terlihat lemah, kalian tak menarik lagi
..................hanya seonggok kotoran tanpa makna
..................ah, malangnya
...Pria
..................yang tampan dengan nama buruk
..................takkan laris
...Wanita
..................yang cantik dengan reputasi buruk
..................tetap laris
...Wanita
..................juga punya mulut
..................bisa menggossip, bisa memfitnah, lebih dari pria
...So...
..................jaga mulutmu baik-baik, oke?
...Vinny
..................hanyalah milik pria perkasa

Johan terhenyak. Ia sudah kalah. Bahkan sebelum membalas dendam. Pemuda itu jatuh. Berlutut. Merasakan keperihan di sekujur bagian tubuhnya. Dan hatinya, ia menangis. Merasa dirinya begitu lemah. Ia, yang selama ini perkasa.
"Vinny!" geramnya. Mengepalkan jemari.
Mendadak matanya melihat sesuatu yang berkilat beberapa meter dari tempatnya berada. Mata Johan terpicing.

di dalam taksi...

"Hihihi," Vinny terkekeh geli. Wajah Johan pasti lucu sekarang. Vinny membayangkan, seandainya Johan memang berkoar pada semua orang tentang keburukan dirinya. Membanggakan kehebatannya sebagai seorang lelaki-bukankah semua lelaki demikian kalau ditinggal kekasihnya? Lalu Vinny akan menyebarkan pada semua orang, bahwa Johan cuman punya `burung' sekutil besarnya. Dan ciumannya persis sosoran babi. Belepotan liur.
Dalam bayangan Vinny, Johan akan setengah mati membuktikan bahwa ia tidak begitu. Bisa-bisa Johan jadi exhibisionist. Memamerkan `burung'-nya kesana kemari. Lalu menyosori gadis-gadis semaunya. Menggelikan. Vinny yakin, Johan akan menjaga mulutnya baik-baik. Si gadis menghela nafasnya dalam-dalam. Ia kembali sendiri kini. Waktunya berburu. Dan ia sudah menjalankan tahap pertama rencananya...dengan Johan. Berikutnya...

-o-

CHAPTER IV
Hilda Ray Vinny : about `the special one`.

one fine day

"Masa mereka semua sudah ngga perawan?" Ray bertanya sambil melongo. Hilda anggukkan kepalanya. Bicara seks dengan pemuda itu sudah bukan merupakan hal yang tabu. Bagi si gadis, pemuda itulah satu-satunya lawan bicara yang paling terbuka, yang pernah dikenalnya seumur hidup. Dan itu menyenangkan.
"Iya. Konyolnya nih, mereka semua tuh bocornya pake vibrator."
Ray melongo lebih lebar.
"Ha? Vib..vibra..tor? Duileh??"
Hilda cekikikan. Wajah pemuda itu terlihat `dongok'.
Ray mendadak memamerkan cengiran kudanya yang sudah terkenal kemana-mana itu. "Heee...," katanya, "asik juga. Tapi banyakan kasihannya."
"Kenapa, Ray?"
"Iya," sahut Ray, pasang muka berwibawa, "kan enakan pake itunya cowok."
Hilda ngikik, "Hihihi. Iya sih. Tapi ga tau tuh. Kerjaannya si Vinny."
"Vinny? Siapa? Eh? Vinny-nya sekolahmu?"
"Iya. Kamu kenal? Kemarin kan ketemu waktu di pestaku."
Ray mengelus-elus dagunya.
"Jadi si Vinny yang ngajak make vibrator?"
Hilda tak menjawab. Sedikit terkejut. Tanpa sadar ia telah membuka rahasia sahabatnya sendiri.
"Ngga gitu sih."
"He, terlambat. Asik, gossip baru," sahut Ray nyengir. Hilda mengayunkan lengannya, memukul bahu si pemuda.
"Ray, jangan gitu dong. Jadi ngga enak. Awas kalau bilang-bilang."
"Wah, kapan ya terakhir kali mulutku ikut omongan cewek?"
Hilda mengerang. Ray menatap menggoda. Satu kecupan melayang ke bibir si gadis tanpa sempat dicegah. Cup! Hilda mendorong tubuh si pemuda. Wajahnya memerah.
"Apaan, sih?"
"Hehehe," kekeh Ray nakal, "kan biar mulutku `manut' sama kamu."
Si gadis meleletkan lidah, "Wek. Emangnya mesti pake nge-kiss?"
"Lho? Nggak mau? Ya udah. Kutarik lagi."
Cup! Cup! Kecupan demi kecupan pun melayang bertubi-tubi. Hilda menggunakan tangannya, berusaha mengusir makhluk iseng yang sibuk menempelkan bibirnya.
"Mmmmmm...mmm... Raaa..mmm!!"
Ray menarik diri, "Ha? Siapa itu Ram? Rama? Cowok kamu, ya?"
"Iseng!"
"Asik! Ngga marah!"
Si pemuda gunakan satu lengannya untuk merangkul si gadis. Lengan si gadis kembali terangkat, menahan tubuh si pemuda. Tapi tatapan mata Ray membuatnya terhipnotis. Pemuda itu masih tersenyum saat perlahan menundukkan kepala, dan mengecup bibir si gadis. Sebuah kuluman kini. Lembut dan penuh perasaan.
Very tempting.

Saat bibir si pemuda terlepas, Hilda masih memejamkan matanya. Bibirnya masih setengah terbuka. Gadis itu menunggu.
"Da? Bangun, Da. Bangun...bangun..bangunnnn....," si pemuda berbisik. Bagaikan kesetrum, Hilda membuka mata dan berteriak-teriak.
"Ray!!! Nakal, ya!! Awas kamu!"
Kepalannya melayang. Ray tergelak.
"Hey! Hey! Stop! Daripada kamu marah, mending jatuh dalam pelukanku."
Hilda menghentikan jurus kepalannya. Menatap si pemuda dengan meruncingkan bibir. "Enak saja. Udah bikin dosa malah mau meluk."
"Cerewet," gerutu si pemuda. Satu tarikan, dan Hilda sudah berada dalam pelukan Ray. Menghirup aroma tembakau dari baju tipis si pemuda. Marlboro. Khas.
Lama mereka terdiam. Hilda menikmati. Ray berpikir.
"Hey, Ray. Gimana ya rasanya bercinta?"
"Ngomong apa kamu. Baru juga tujuh belas tahun sudah ribut masalah sex."
Hilda nyengir, "Ngga apa-apa, kan? Ini jaman maju."
"Jangan ikut-ikut si Vinny. Rusak tuh cewek."
"Ngga gitu sih, Ray. Cuman...."
"Kenapa? Kamu terangsang, ya, sama aku?"
Hilda menarik tubuhnya, mencubit pipi Ray.
"Enak saja kalau ngomong."
Ray tertawa, "Nah loh. Kalau engga ya udah. Ngomong yang lain aja." Hilda meletakkan kembali kepalanya di dada si pemuda. Ingatan si gadis kembali pada kejadian di villa tempo hari. Entah mengapa, ingatan itu, ditambah dengan aroma tembakau di tubuh Ray menimbulkan getaran-getaran yang menyenangkan. Terangsang, pikir si gadis, aku terangsang? Mungkin. Dan, bagaimana si gadis bisa mengakuinya?

Mendadak Ray melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh si gadis agak menjauh. Matanya menatap penuh selidik.
"Kamu kelihatan sedikit aneh. Aku pulang, ya?"
"Kok buru-buru amat, sih? Ada yang nunggu, ya?"
Ray nyengir, lalu bangkit berdiri.
"Ngga ada. Aku cuman takut ntar malah merkosa kamu. Kan bisa berabe."
"Aku sih suka aja diperkosa kamu," Hilda berbisik lirih.
"Eh? Apa?" Ray menoleh. Hilda menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Ngga kok."
Ray membalikkan tubuh dan membungkuk. Bibirnya menemukan kening si gadis.
"Jangan. Aku ngga pingin ngerusak apapun. Kita kan sahabat. No.. someone special."
"Someone special...," Hilda mendesah. Ada nada kecewa di sana. Kecewa karena toh bagaimanapun, Ray akan tetap menganggapnya demikian. Takkan pernah lebih. That's all-pemuda yang tak ingin lagi berpacaran itu...

Ray seolah bisa merasakan kesenduan di nada si gadis. Cepat-cepat ia meraih jaket kulitnya di atas kursi. Sambil mengenakan, bibirnya bersiul-siul. Kakinya melangkah kemudian, menuju pintu ruang tamu si gadis. Ketika Ray menoleh, ia melihat Hilda sedang menatapnya. Ada air mata. Sedikit. Meletakkan telunjuknya di bibir sendiri, si pemuda berbisik, "Ssshhh." Hilda mengusap air matanya, lalu tersenyum. Gadis itu bangkit berdiri dan berlari kecil, menyusul si pemuda keluar rumah. Tak mengapa, pikir si gadis, yang penting bisa dekat dengan Ray. Sudah lebih dari cukup.
Bisa dipeluk...dan dicium... lebih dari segalanya.
Itu sebab, kenapa Hilda sering membunuh kumbang-kumbang lain.
Itu sebab, kenapa Hilda ngga ikut mainan vibrator.
Dua hal yang tak pernah diceritakannya pada Ray.
Karena ia... menunggu. Even as `someone special'.

-o-

beberapa jam kemudian...

"Hilda, ada telepon!" terdengar seruan dari ruang bawah. Sedikit malas, Hilda bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar.
"Halo?" sapa si gadis.
"Hilda? Da, Vinny mau cerita...." terdengar suara sendu seorang gadis.
"Cerita??"

-o-

Dan Vinny mulai bercerita. Diawali dari sebuah kedatangan yang tak pernah diduganya. Perbincangan-perbincangan. Canda tawa itu. Lalu....

"Karena...kamu begitu mempesona....," bisik Ray di telinga si gadis. Tangannya menahan pundak si gadis untuk berdiri.
"Ray... jangan begini, ah, rese," bisik Vinny, si gadis yang merasa gelisah.
"Ngga bisa. Bibir kamu udah ngegoda aku."
"Ray!" Vinny mendorong tubuh Ray ke samping. Wajahnya terlihat memerah. Sambil nyengir, si pemuda biarkan si gadis merenung sambil memeluk lutut.
"Vinny, ngga bakal bisa percaya sama Ray."
Si gadis tolehkan wajahnya, menatap senyum di bibir si pemuda. Satu gelengan, si gadis balas tersenyum.
"Kamu memang jahat. Playboy. Mana Hilda?"
"Hilda?" Ray melongo. Klise benar. "Hilda siapa?"
"Ngga usah pura-pura bego."
"Wah, Hilda-ku banyak. Ada yang warna item. Ada yang ijo."
"Ijo? Emang kodok?"
"Bukan. E'ek-nya kebo."
"Hihihi. Jorok."
Jemari Ray terulur, mengelus punggung Vinny dengan lembut.
"Cewek itu cewek. Teman itu teman. Someone special, itu lain lagi."
"Hilda?"
"Sahabat. Someone special? Kayak kamu. Seseorang yang bisa ngebuat aku terpesona. Bahkan rasanya mau berlutut sambil nyembah-nyembah." Vinny tersenyum. Pemdua ini sungguh pandai membuatnya tersanjung.
"Apa sih yang bagus dari aku? Apa yang kurang dari Hilda? Dia lebih layak..."
Ray terkekeh, memotong, "Hilda memang layak. Tapi sayang, kalau kamu ngga tahu ini. Dalam hidup seseorang, ada yang dinamakan kelebihan dan kekurangan. Begitu pula dengan Hilda. Mungkin ia punya banyak kelebihan. Tapi ada kekurangan lain yang tak bisa tidak diakui ada padanya."
Vinny menatap wajah Ray. Sesuatu dalam hati si gadis mengatakan: itu gombal.
"Kamu pasti mau bilang aku ngegombal," ucap Ray. Vinny tersipu.
"Ngga kok," lanjut si pemuda, sementara jemarinya masih mengelus punggung si gadis," aku memang ngeliat itu di kamu. Sesuatu yang Hilda ngga punya."
Vinny menunggu.
Telunjuk Ray yang bebas terangkat, lalu menyentuh bibir si gadis.
"Kamu punya bibir yang seksi."
Vinny tak menyahut. Alisnya berkerut.
"Aku ngga suka cowok yang hanya melihat luarnya."
"Aku kan belum selesai," senyum Ray, "mata kamu itu...."
"Hmmm?"
"Matamu, bilang sama aku begini, 'hug me, kiss me, thrill me'."
Vinny tertawa geli. Wajah pemuda itu begitu lucu kala serius. Tawa si gadis terhenti saat ibu jari Ray menemukan sudut matanya. Gadis itu melirik, melihat si pemuda tersenyum dengan tatapan yang aneh.
"Vin, aku mau tanya sesuatu."
"Hmmm ?"
"Apakah seorang cowok, kalau pingin nge-kiss kamu, harus jadi pacarmu? Kalau ngga, berarti aku boleh dong nge-kiss kamu. Kalau iya, aku ngga bakalan maksa."
Vinny terdiam. Tak mampu berkata apa-apa. Ingin rasanya ia berkata `ya'. Tapi sesuatu yang ada di bibir si pemuda-yang setengah terbuka-memaksanya untuk mengatakan `tidak'. Perlahan, kepala si pemuda mendekat dalam posisi miring. Aroma Marlboro yang tajam terhirup oleh si gadis. Ibu jari Ray menekan bibir bawah Vinny hingga sedikit terbuka. Matanya tak lepas dari mata si gadis. Menatap tajam. Dalam. Mencoba menghipnotis. Kurang beberapa mili lagi sebelum bibir mereka bersentuhan, mendadak Vinny mendorong tubuh si pemuda. Gadis itu meraih bantalan kursi dan memeluknya erat-erat.
"Hey, kalau begitu ngga boleh?" ucap Ray, lalu tertawa.
"Ray," Vinny berkata beberapa saat kemudian, "kamu itu gimana sih. Ada Hilda yang menunggumu. Aku tahu itu. Selain itu, aku juga sudah punya..."
"Lha, terus apa hubungannya?" sela si pemuda.
"Ya jelas ada dong."
"Vin, pacarmu ngga punya apa, yang kamu rasa aku miliki?"
Vinny menatap si pemuda. Lagi-lagi tak bisa berkata apa-apa. Dalam benak si gadis, terbayang wajah Johan. Pemuda keren anak pejabat yang selama dua tahun ini menjadi kekasihnya. Pemuda yang cakap, baik, dan penuh pengertian. Begitu dewasa.
Ray, di lain sisi, sungguh jauh berbeda. Baru beberapa jam mereka berkenalan, seolah sudah sepuluh tahun bersama. Kekanak-kanakan. Suka tertawa. Asik diajak bicara. Dan punya kehangatan berlebih, yang terkadang membuat timbulnya keinginan dipeluk oleh si pemuda.
Jauh. Jauh sekali. Tak bisa dibandingkan begitu saja.
Teganya pemuda ini menanyakan hal itu.

"Vin...."
Si gadis tak menyahut. Kepala Ray mendekat lagi. Tatapannya sekali lagi berusaha menghipnotis. Vinny tak tahu apa yang terjadi kemudian. Matanya terpejam saat tengan si pemuda menyingkirkan bantal di pelukannya. Satu detik, bibir mereka bertemu. Hanya sedetik.
Vinny tak membuka matanya, juga tak mengatupkan bibirnya.
"Vin...."
Perlahan, Vinny buka mata. Ray tersenyum di hadapannya. Mata pemuda itu menatapnya, tak lagi tajam dan menghipnotis. Tapi lembut dan hangat.
"Puas, Ray?" si gadis berbisik. Hatinya galau. Kesetiaannya pada Epi terusik.
Si pemuda tak menyahut. Hanya memasang senyuman.
Beberapa detik berlalu dalam sepi.
"Vinny. Kalau kamu tak mau, tampar saja."
Tanpa bisa dicegah oleh si gadis, Ray memajukan lagi kepalanya. Kali ini menempelkan bibirnya, dan melumat. Hati si gadis serta merta kacau balau. Tangannya seketika terangkat, hendak menampar.
"Don't," desah Ray di bibir si gadis. Tangannya juga terangkat, menahan lengan si gadis yang hendak terayun. Vinny mengeluh dalam hati. Ia begitu lemah. Perlahan, gadis itu memejamkan matanya.
Lupakan Johan! begitu si pemuda berata lewat sentuhan bibirnya. Pada pelukan yang terjadi kemudian, Vinny sudah melupakan segalanya. Bukan hanya Johan, kekasihnya, tapi juga semua aturan-aturan dari berbagai norma yang ditanamkan di dirinya semenjak kecil.
Tak ada perlawanan. Hanya kepasrahan saat si pemuda membuka kancing baju seragamnya. Satu-satu.
Dengan kehangatan dan romantisme yang memebuat si gadis terlena.
"Ray.....jangan....," rintih Vinny, saat bibir si pemuda mengecup buah dadanya.
"So beautiful...," Ray balas berbisik. Tak behenti. Satu tangannya menahan lengan si gadis di atas kepala. Tangannya yang lain menarik tepian rok ke atas. Dengan kaki membuka paha si gadis, perlahan Ray menurunkan bobot tubuhnya. Vinny mendesah.
"So sweet...," Ray berbisik lagi. Vinny terhanyut. Terhempas dalam kenikmatan gerakan pinggul si pemuda yang menggesek pangkal pahanya. Gadis itu merintih tertahan, saat merasakan kulit dada si pemuda menempel di kulit dadanya. Sejak kapan.....

Mata si gadis terbuka saat merasakan Ray menarik celana dalamnya.
"Ray!"
Plakk!! Satu tamparan keras mengenai sisi wajah si pemuda. Vinny membelalakkan mata menatap Ray. Si pemuda tatap gadis di bawahnya. Tak meringis kesakitan. Tetap tersenyum. Tubuh si pemuda membungkuk. Wajahnya mendekat.
"Vinny. Aku pingin make love sama kamu."
Vinny tak menyahut. Hanya memandang dengan tajam. Mereka berpandangan beberapa saat lamanya. Kesunyian menyelinap. Tak ada yang bergerak. Perlahan, Vinny gelengkan kepalanya. Lalu hening lagi.
"Vin...." bisik si pemuda. Tak beranjak.
"Aku mau pulang, Ray," bisik Vinny. Air mata keluar tanpa bisa ditahan.
Si pemuda tersenyum. Tundukkan kepalanya dan megecup kening si gadis.
"Sori, Vin. Aku terlalu memaksa, ya?"
Si gadis anggukkan kepalanya.
"Sori," Ray berbisik lagi, sebelum mengangkat tubuhnya dari tubuh si gadis.
Vinny tak menyahut. Begitu tubuh si pemuda terangkat, gadis itu memiringkan tubuhnya dan menangis. Hatinya terasa hancur. Satu sisi, ia begitu menyayangi Johan, pemuda yang selama ini tak pernah membuatnya kecewa. Satu sisi yang lain, pemuda yang baru saja hendak menidurinya, yang ingin melakukan apa yang bahkan tak pernah dilakukan Johan, sungguh-sungguh membuatnya jatuh bangun.
Dalam kebingungannya, sebuah lengan merangkul tubuh si gadis. Kepala Ray menempel di sisi kepalanya kemudian.

Satu kecupan di leher si gadis, Ray berbisik, "Aku membuatmu marah?" Tak ada sahutan dari Vinny. Ray menarik tubuh si gadis, membalikkannya hingga ia bisa melihat wajah si gadis yang basah.
"Vin..... Jangan marah, ya?"
Si gadis hanya menangis.
Si pemuda dekatkan bibirnya dan mengecup bibir si gadis.
"Ray...."
"Ssshhhh."
Selanjutnya. Vinny tak berdaya. Bahkan waktu Ray menelanjanginya. Mengecup sekujur anggota tubuhnya. Kepala, leher, dada, betis, paha, bahkan daerah tubuh si gadis yang paling intim. Tak ada isak tangis. Hanya rintihan dan desahan.

-o-

Imajinasi Hilda membuatnya nyaris pingsan. Ide-ide pokok yang keluar dari bibir Vinny berkembang menjadi narasi yang mengejutkan.
Kepalanya pusing seketika.
"Vin.... benar seperti itu?"
"Hhh... sori Da. Aku minta maaf."
"Kapan itu?"
"Beberapa hari yang lalu. Setelah pestamu."
Hilda menjatuhkan tubuhnya di lantai. Terduduk dengan lesu. Tanpa sadar, air matanya menitik turun.
"Ray.....," bisiknya memanggil nama pemuda yang begitu ia cintai. Pemuda yang sudah memberikannya sejuta kehangatan. Yang sudah menyebutnya `someone special' -posisi yang membuatnya merasa berpuas diri.
"Da....?"
"Vin, kamu mau ke sini?"
"Sudah malam, Da."
"Vin, please...."
"Jangan marah, Da."
"Ngga. Kamu sahabatku."

Menutup telepon, Hilda bersandar di tembok. Gadis itu menangis tersedu-sedu, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia percaya pada Vinny.
Vinny sudah punya Johan. Dan bukankan Vinny yang mengingatkan tentang arti sebuah kesetiaan? Walaupun hanya bertujuan untuk suatu kenakalan, tapi Hilda percaya itu suatu kebenaran pula. Vinny nakal. Tapi Vinny sahabatnya.
Ray?
"Ray...," isak si gadis lagi. Ray begitu superior. Hilda tahu benar bagaimana rasanya dirayu dan dilambungkan setinggi surga oleh si pemuda. Tahu benar bagaimana rasanya bila keinginan untuk dibelai itu muncul, kala Ray membisikkan kata-kata di telinganya. Menyentuh bibir dengan bibir. Sang penggoda ulung.
Betapa ironik. Tadi siang, Ray masih mengatakan bahwa Vinny seorang gadis `rusak'. Supaya Hilda tidak mengikuti si `rusak'. Ternyata...ternyata pemuda itu malah sudah datang dan...dan.... Hilda menggerung.

-o-

CHAPTER V
Ray : what the ...!?!

beberapa jam sepulang Ray dari rumah Hilda.....

Ali Topan, ternyata sudah potong rambut, menjual Herley-nya, dan ngerokok Marlboro. Ngga percaya? Lihat pemuda yang melaju tanpa helm itu. Jaket kulit hitam polos. Kucing hijau yang meraung. Dan cocot putih di ujung bibir.
Ray, siswa SMA XXX. The one and only. It's a bird! It's a plane! It's Rayman!!
Ray menarik gas lebih dalam. Melawan angin malam. Masuk kampung rawan.

Kampung Simorowo. Pinggiran metropolis. Istilahnya daerah `blusukan'. Ada tiga suku bangsa Indonesia di sana. Suku kulit kuning, suku kulit coklat, dan suku yang jago menguliti kulit orang. Ada tiga bahasa. "Haiya" ; "Bah" ; dan "Tak ya".
Tiga kegemaran. Judi, main gitar, dan mutar clurit.
Rawan benar. Seram. Horror.
Tapi Ray cuek saja. Ia punya banyak teman di sana.
Pemuda itu melintasi gang empat. Sedikit lambat saat melewati kerumunan pemuda kulit coklat.
"Hoy, Lae! Mau kemana?" tanya salah seorang dari mereka. Ray nyengir dan menoleh. Tanpa berhenti, pemuda itu berseru, "Markas, Bang!"
Kerumunan pemuda itu tertawa. Bagi mereka, sosok Ray tidak asing lagi. Sejak masih duduk di bangku SMP, pemuda itu sudah sering berkeliaran di daerah mereka.
Bagi pemuda-pemuda Simorowo, Ray punya keunikan.
Pemuda itu dari suku kulit coklat, campur kulit kuning, dan punya segudang jurus menguliti kepala. Penuh akal dalam main judi, ahli memetik gitar, dan suka berkelahi. Cocok benar.

Ray berhenti di salah satu rumah kecil yang terbuat dari kayu. Saat matanya memandang, terlihat temaram lampu kerosene memantul dari jendela. Bibirnya tersungging senyuman. Pemuda itu menuntun kucing hijaunya memasuki pekarangan yang hanya dipagari pasak kayu. Di dalam, sudah ada beberapa kucing lain yang diparkir berjejer.
Tok! Tok! Buku jarinya mengetuk.
"Siapa?" terdengar suara dari dalam.
"Polisi. Ada razia."
Tak berapa lama, pintu terbuka. Sebuah kepala menyembul keluar.
Ray nyengir, membalas senyuman yang ditujukan padanya.
Masuk ke dalam, Ray membuka jaket.
"Duduk, Ray."
"Ya," sahut si pemuda. Mencari posisi yang ternyaman untuk meletakkan pantatnya.
Ray meraih gitar yang disandarkan di tembok sebelahnya. Sesaat kemudian, jemarinya sudah asik memetik. Lagu rakyat. Iwan Fals. Bung Hatta.
"Sungguh...terlalu cepat semuaaa..," mulutnya mulai `nembang'. Terdengar suara tertawa beberapa orang dari dalam. Lalu suara kaki-kaki melangkah.
Empat pemuda. Dua gondrong. Dua lagi cepak.
"Bangsat. Suara kayak gitu dibuat nyanyi!"
Ray nyengir. Tapi tak berhenti. Malah berteriak-teriak.
Salah seorang, yang gondrong dan punya tampang mirip Keanu Reeves, mengulurkan tangan. Plak! Lalu disusul makian dengan logat Betawi.
"Tolol! Ini sudah malam, tau. Ini kampung, bukan rumah nyak elo."
Ray ngakak. Yang lain-lain juga ngakak.

Kemal merogoh saku Ray, mengeluarkan kotak Marlboro dan mengambil sebatang. Pemuda gondrong itu menjatuhkan tubuhnya di atas salah satu kursi ruang tamu. Kakinya dinaikkan ke atas meja. Ray memandang dengan sedikit terharu. Kemal, sosok yang sudah banyak berarti baginya. Hidup dalam pelarian. Pemuda yang lebih layak dijuluki Ali Topan-nya Surabaya itu, kini tak ubahnya seperti kucing buduk dalam tong sampah. Masih tetap ganteng seperti saat-saat Ray mengenalnya. Hanya terlihat kering. Narkoba sudah menggerogoti kegagahannya.
"Ndre, lo aja yang cerita sama si Ray," terdengar Kemal berkata.
Ray memandang ke arah Andre, yang masih bersandar di samping lemari. Pemuda berambut cepak yang dipandang hanya meringis.
"Kenapa, nDre?" tanya Ray ingin tahu.
Memang tak bisa dihindari, saat pagernya berbunyi, Ray harus kembali ke `dunia lama' yang sebetulnya tak ingin dimasukinya lagi. Ray yakin, Andre dan Tore juga begitu. Mungkin Joe tidak, mengingat singa Afrika itu memang selalu bersama-sama dengan Kemal.

"Kamu masuk aja, Ray. Ada yang broken heart di dalam."
"Orang tolol," Kemal mendesis. Ray nyengir, lalu bangkit berdiri. Menyibak korden yang merupakan satu-satunya pembatas antara ruang tamu dengan ruang di sampingnya. Lorong yang gelap. Di samping kanan dan kiri ada pintu. Ray membuka pintu sebelah kanan. Sinar lilin menyambutnya.
Lalu... PUAKKK!! Sebuah bogem mentah melayang. Ray tak sempat menghindar. Terjengkang dan berlutut. Rahangnya terasa ngilu. Pandangannya kabur seketika.
"What the...."
BRAKKK!! Satu tendangan lagi mencongkel tubuhnya sampai terguling. Pemuda itu menggeliat kesakitan.
"CUKUP!!" Ray berteriak. Melompat berdiri, pemuda itu mengayunkan lengannya. BUK!! Satu pukulannya bersarang telak di ulu hati. Seseorang mengeluh dan terjatuh.
Ray mengangkat kepalanya. Mengusap cairan anyir di sudut bibirnya. Matanya memandang sosok pemuda yang berlutut di sampingnya.
"Hey? Jo? JO!? Bangsat!!" Emosi, Ray mengangkat kaki, menginjak leher Johan, yang langsung mencium lantai tanah. Saat itulah mendadak yang lain-lain menyeruak masuk. Ray merasa tubuhnya didorong oleh seseorang. Pemuda itu terhuyung dan terduduk di atas dipan. Matanya menatap penuh tanda tanya pada Kemal, Andre, Tore dan Joe. Keempat pemuda itu juga menatap ke arahnya.
"Ada apa, sih?" tanya Ray, mengerutkan alis.
"Kamu curang, Ray," mendadak terdengar Johan mendesis. Ray bengong.

"Kamu...pengkhianat...."

-o-

"HEY!! ITU FITNAH!!" Ray berteriak gusar, membuang kartu nama ditangannya. Kartu namanya sendiri, yang ditemukan Johan di atas aspal kotor. Kartu nama yang hanya diberikannya pada gadis-gadis bodoh.
Tore menahan tubuh pemuda yang hendak berdiri itu. Johan menatap Ray dengan pandangan menyipit.
"Fitnah... sejak kapan kamu membohongi sahabat sendiri?" bisik Johan. Ray melirik ke arah Kemal. Yang dilirik hanya melengos.
"Kalian ngga percaya sama aku? The hell. Persetan! Aku pulang!"
Ray hendak bangkit, tapi lagi-lagi Tore menahan tubuhnya. Ray menggeliat dan menepis lengan Tore. Saat itulah Joe menghadang. Satu dorongan keras dan tubuh Ray menubruk tembok.
"Asem," Ray memaki. Kepalannya terangkat. Mana pernah ia punya takut? Joe sudah siap-siap hendak memukul, saat Kemal berseru.
"STOP!"
Semua mata langsung memandang ke arahnya. Dari dulu sampai sekarang, Kemal tetap menjadi boss dimanapun mereka kumpul-kumpul. Ray, hanya sekedar peran pengganti, saat Kemal tak ada.

Kemal melangkah mendekati Ray. Memajukan kepalanya, pemuda itu tatap mata Ray dalam-dalam. Asap rokok membuat tabir diantara wajah mereka. Lama saling tatap. Dua mata yang berapi. Lalu Kemal menarik kepalanya. Berpaling ke arah Johan.
"Jo. Dia ngga bohong."
"Tapi, Mal....kartu itu..."
"Cukup. Ada yang main kayu di sini."
"Mal! Dia sendiri yang bilang!"
Plakk! Sebuah tamparan dari Kemal mengenai wajah Johan.
"Sejak kapan omongan perempuan membuat kita bermusuhan?"
Mata Kemal menyapu semua orang yang ada di situ. Andre menundukkan kepalanya. Tore mundur perlahan. Sementara Joe terlihat tetap tenang dengan rokok di bibir.
"Mal....Vinny...hh....," Johan menutup sebelah wajahnya.
Ray terhenyak.
"Eh? Vinny? Rasanya pernah dengar?"
Johan menunjuk, "Tuh kan. Aku bilang juga apa!"
Semuanya langsung menatap Ray curiga.
"Whoaaa!! Tunggu! Tunggu!!" Ray langsung belingsatan. Cari aman.

-o-

Ray pulang dari markas besar dengan hati dongkol bukan main. Sudah kena fitnah, sekarang dia pula yang harus menyelesaikan masalah. Apa-apaan ini? Siapa sih yang namanya Vinny itu? Johan saja bisa termakan fitnah yang keji.
Dia? Ray? Menggoda mantan sahabatnya? Anjing macam apa dia? Pusing, Ray memacu kucing hijaunya.
Satu tujuan. Rumah Hilda! Satu-satunya gadis yang pernah menyebutkan nama Vinny padanya.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat pemuda itu berhenti di depan pagar rumah si gadis. Tangannya terulur, jarinya menekan tombol bel di balik pagar.
Pintu depan rumah terbuka. Dua orang gadis melangkah keluar. Satu dari mereka tampak menyeka wajah dengan sapu tangan.
"Da!" Ray memanggil. Gadis yang berdiri paling depan mengangkat kepala.
"Tidak!!" Gadis itu mendadak memekik, lalu berlari secepat kilat, masuk ke dalam rumah. Gadis yang keluar belakangan menyipitkan mata.
"Ray?"
Ray masih kebingungan.
Siapa gadis yang menangis tadi, tanya si pemuda dalam hati.
"Iya, ini aku. Bukain dong."
Hilda melangkah melintasi pekarangan. Sampai di depan Ray, bukannya malah membuka pintu, gadis itu justeru menatap Ray dalam-dalam.
"Da?" tanya Ray heran.
Terkejut pemuda itu, saat mendadak melihat Hilda menangis.
"Hey! Apa-apaan?"
"Kamu memang hidung belang! Buaya! Nyesal aku temenan sama kamu!" Seusai berkata demikian, Hilda membalikkan tubuh. Menutupi wajah dan berlari masuk ke dalam rumah. Klik!
Ray ternganga.
"Hilda!!" serunya dari balik pagar. Tak ada sahutan. Gusar, Ray mengguncang terali pagar sampai terdengar bunyi gemerincing. Tiba-tiba pintu depan rumah terbuka lagi. Ray menatap penuh harap. Tapi yang keluar justeru kingkong besar dengan sapu di tangan.
"Astaga maknyak!! Udel kingkong!" Ray berseru. Pemuda itu langsung berbalik dan naik ke atas sepeda motor. Keder. Bapaknya Hilda kan pensiunan Jendral. Nanti kalau kena tembak bisa kacau. Dia kan belum pernah mencicipi rasanya punya anak. Terbirit-birit, Ray berlalu dari tempat itu.

"Kurang ajar! Bangsat! Nenek monyet! Aspal!" Ray memaki-maki di atas sepeda motor yang masih melaju. Pikirannya buntu. Tak tahu apa yang terjadi. Tanpa terasa kucing hijaunya jadi pusat perhatian beberapa polisi yang sedang sibuk memikirkan cara untuk ngopi gratis.

"Yak. Ini ngga pakai helm. Ngebut. Dan ngga bawa dompet, ngakunya ditinggal di rumah yang kebetulan dekat. Wah, Mas. Ini pelanggarannya berat. Sidang besok Jum'at pukul setengah sepuluh. Bisa? Kalau ngga bisa, ya saya bantu wakilkan. Enteng, toh?" ucap si sersan dengan senyum di bibir. Ray meringis.
"Pak, Ngutang ya, Pak. Bapak saya udah pensiun. Ibu saya jualan tempe di pasar Pacung. Kakak saya ngamen. Yang satunya lagi di penjara. Kasihan dong, Pak."
Tuk! Satu jitakan mengenai jidatnya.
"Bocah gendheng."
Alhasil, duit sepuluh ribu di kocek si pemuda-yang rencananya buat beli kopi sama nasi bungkus Padang-lenyap amblas.

Ray sampai di depan rumah dengan kondisi kuyu. Baru saja ia memasukkan kucingnya ke pekarangan, mendadak...pet!...lampu mati. Hilang sudah fast food a la microwave.
Ray mengerang sejadi-jadinya.
"TIDAAAAAKKK!!"
Apes benar dia hari itu.
Menjatuhkan tubuhnya di teras rumah. Ray menerawangkan pikiran. Tubuhnya terasa begitu lelah.
"Masuk...aku mau masuk...," bisiknya, seraya mengulurkan tangan ke pintu.
Pemuda yang selalu membuat segalanya dramatis plus hiperbolik.
Mirip orang sekarat, Ray mengerang lagi. Lalu menggerus.

-o-

"Mas Ray, kok tiduran di teras? Bangun, Mas. Pindah ke dalam."
Ray membuka matanya. Lehernya terasa pegal linu. Perutnya kembung. Jelas masuk angin. Perlahan, pemuda itu berusaha membangkitkan kesadarannya.
Mengerjapkan mata, pemuda itu melihat Bik Sumi, pembantu yang setiap dua hari sekali datang untuk membersihkan rumahnya.
"Jam berapa, Bik?"
"Jam delapan, Mas."
"Arrrrggghh," Ray mengerang. Menggeliat. Lagi-lagi bolos. Pemuda itu lalu bangkit berdiri dan membuka pintu ruang tamu. Bagitu sampai di dalam, Ray menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Matanya memandangi langit-langit ruang tamu. Pikirannya melayang-layang, antara dunia nyata dan mimpi buruk.
"Bik, masak yang enak buat diriku yang malang," desahnya.
Si Bibik yang sudah masuk ke dapur mana bisa mendengar?
"Groookkk!!" Akhirnya Ray ngorok.

-o-

CHAPTER VI
Ray : Venus

"Hihihi. Mukanya lucu."
Ray bermimpi, ada bidadari berbaju kutung masuk ke rumahnya. Berlutut di depan wajahnya. Lalu tertawa. Tawa yang manis dan menggairahkan.
"Memang mukanya playboy gini semua, ya? Imut juga."
Ray mesem. Badannya masih terasa pegal dan ringan. Nikmatnya bermimpi. Raut wajah bidadari mendekat. Sesuatu yang lembut menempel di bibir si pemuda.
Melekat. Membasahi. Semanis madu. Sehangat sinar mentari pagi.
Ray menggerakkan bibirnya, dan kelembutan itu membalas.
Lalu ada sesuatu yang menempel di selangkangannya. Memijat dengan lembut batang kemaluan si pemuda. Terangsang, `adik kecil ` Ray mulai bangkit.
"Hmmm, bidadari dari mana?" desah Ray sambil tersenyum nikmat.
"Namaku....Venus."
"Masuk dari mana?"
"Dari mimpi. Aku mencarimu, Ray," suara lembut itu berbisik mesra. Jemari yang semula memijat dari luar, sekarang sudah masuk ke balik lipatan celana si pemuda. Ray menghela nafas, saat jemari itu menggenggam batang kemaluannya, dan memainkannya dengan gerakan yang memikat.
Ray mengulurkan lengannya, menarik leher bidadari, dan menekan bibirnya. Melumat bibir sang bidadari. Tubuh bidadari itu terangkat dan menindihnya. Ray bisa merasakan gumpalan buah dada sang bidadari yang menekan dadanya sendiri.
Jemari si pemuda meraba kulit yang sehalus sutera.
"Kamu tahu apa mereka memanggilku," bisik Ray, sementara jemarinya sudah menyusup ke balik baju sang bidadari.
"Aku ingin tahu."
"Mereka memanggilku...Shiva, sang penghancur," senyum Ray. Matanya masih menggantung. Sekejap pemuda itu terheran-heran. Bidadari jaman sekarang apa memang beda dengan yang dulu? Kemana perginya lilitan kain putih itu? Kok berganti kaus kutung?
"Shiva...dan Venus....," si bidadari mendesah. Bibirnya menggigit lembut bawah bibir si pemuda. Ray mendesah nikmat, saat ujung jemari sang bidadari menyentuh bagian batang kemaluannya yang paling sensitif. Memijat kecil. Adik kecil si pemuda berdenyut.
Tangan Ray turun ke bawah. Mendapati sang bidadari hanya mengenakan rok jeans sepaha, pemuda itu tersenyum. Matanya membuka lebih lebar.
"Kamu pakai celana dalam, Venus?"
Sang bidadari terkekeh geli.
"Kalau kamu cerdik, dalam sekejap aku takkan lagi memakainya."
Ray nyengir. Sekarang ia sudah melihat jelas raut sang bidadari. Sang Venus.
Wajah yang tirus. Bibir yang tipis mungil berbentuk hati. Dua bola mata yang besar dan indah, disertai sinar kenakalan seorang wanita. Hidung yang mancung. Rambut legam yang terjatuh di sisi kanan kepalanya. Kecantikan yang sempurna.

Jemari Ray menyusup ke balik rok mini si gadis. Satu sentakan lembut, celana dalam si gadis sudah bergeser sampai ke paha. Kaki si pemuda menekuk, menarik celana dalam Venus dengan ibu jari. Si gadis terkekeh, membiarkan celana dalamnya tertarik. Terlepas.
Ray menarik tangannya, menyusupkannya ke paha si gadis.
"Hhhh," Venus mendesah saat jari tengah si pemuda menyelinap ke sela pangkal pahanya. Tersenyum, Ray memainkan bibir kemaluan Venus.
Venus membuka matanya yang sempat terpejam. Gadis itu balas tersenyum, sebelum menundukkan kepala dan memagut bibir si pemuda.
"Shiva..make love to me...." desahnya.
Tangan si gadis menyelinap, dan menggeser pengait celana si pemuda. Membuka, menarik restleting, untuk lalu menyusup dan menggenggam batang kemaluan yang sudah mengeras.
"Sweet dream. Very very sweet," Ray berbisik, dengan bibir yang masih menempel di bibir Venus. Pemuda itu lalu tarik jarinya yang sudah basah. Menggunakan kedua tangannya, Ray membuka paha Venus, lalu menaikkan pinggul gadis itu sedikit ke atas.
"Hhhhh..nngg....," Venus mengerang tertahan, saat batang kemaluan pemuda itu menyesak masuk ke dalam liang kemaluannya. Ray menahan tubuh si gadis, supaya tidak turun terlalu cepat. Perlahan, tapi pasti, batang kemaluan si pemuda menyusup seluruhnya. Liang kemaluan si gadis menyambut.
"Jangan bergerak. Please. Jangan....," Venus mendesah nikmat.
Bibirnya menelusuri tepian bibir Ray. Lalu merambat ke dagu, bergeser ke pipi, hidung dan matanya. Ray meresapi kehangatan yang menyelimuti batang kemaluannya. Pijatan-pijatan lembut mulai terasa.
Tubuh Venus terangkat. Dua lengan yang putih mulus menyilang. Jemari si gadis menarik bajunya ke atas. Lalu dua lengan itu tertarik ke belakang. Ray tertegun saat menyaksikan dua gumpalan buah dada yang begitu menantang begitu bra dilepaskan dari tubuh Venus. Areola yang berwarna merah muda, melingkar serasi mengelilingi puting susu yang mengeras.
Venus tersenyum. Menarik lengan si pemuda di bawahnya, lalu meletakkan telapak tangan pemuda itu di dadanya.
"Touch me, Shiva," Venus berbisik. Ray menggerakkan jemarinya. Meraba melingkar, lalu menekan. Kulit yang luar biasa halusnya.
Jemari Venus menari di atas kancing-kancing baju si pemuda. Melepas satu persatu, menampakkan dada yang berbulu halus. Venus mendesah, menekuk tubuhnya. Menindih, menempelkan buah dadanya ke dada si pemuda. Kehangatan kulit mereka menyatu. Bibir mereka saling berpagutan.
Tanpa sadar, mata kedua insan itu terkatup. Sesuatu yang tak pernah mereka lakukan kala berciuman.

Perlahan, pinggul Ray bergerak. Venus merintih. Kepalanya bergeser dari atas wajah si pemuda. Menyusup ke samping, menempelkan pipi dengan pipi. Menyandarkan dagu di pangkal leher si pemuda. Ray bergerak lembut. So Blues.
Kedua lengan si pemuda memeluk punggung si gadis, meraba dengan jemarinya kulit yang tiada cacat itu. Kedua lengan Venus tertarik ke depan, mencengkeram sandaran tangan sofa, menancapkan kuku-kukunya. Ray mengerang tertahan, saat pinggul Venus merespon gerakannya. Paha Venus menggesek-gesek pahanya. Menjepit dan membelai.
Lambat, tapi pasti. Kenikmatan itu mendaki puncaknya.
"Shiva...." Venus merintih. Mengerutkan alis dan menggigit bibir kemudian.
Ray tak menyahut. Menarik nafasnya dalam-dalam. Mempertahankan ritme yang mulai sedikit lebih cepat. Cengkeraman Venus pada sandaran kursi mengencang. Kedua pahanya menekan paha si pemuda. Ujung-ujung kakinya tertarik lurus.
Ray bergerak semakin cepat. Si gadis merintih-rintih.
Si pemuda mengeluarkan suara seperti tersedak, saat gigi Venus menemukan kulit lehernya. Tubuh Ray mengejang. Jemarinya menekan punggung Venus.
Pinggulnya terlonjak ke atas. Venus menjatuhkan seluruh bobot tubuhnya ke atas tubuh si pemuda.
"Hkkkk!!!" Ray mengerang. Memeluk Venus sekencang mungkin. Venus menurunkan lengan, menjambak rambut si pemuda. Menarik sekuat tenaga.
"Shiva!!" Rintihannya memanggil si pemuda.
Kehangatan muntah di dalam liang kemaluan si gadis. Tubuh mereka melekat bagai lintah. Terdiam dalam kenikmatan yang tiada taranya. Tubuh Venus lalu melemas, terengah-engah. Jambakan di rambut si pemuda mengendur, begitu pula jepitan pahanya. Ray memejamkan mata. Mengatur nafas. Liang kemaluan Venus terasa memijat lembut batang kemaluannya. Hangat.

Ray mengecup telinga si gadis.
"Stay still...please...."
Venus anggukkan kepalanya. Memejamkan mata.

CHAPTER VII
Vinny : Shiva

Vinny terbangun, menghirup aroma kopi susu. Bibirnya tersenyum saat ia membuka mata. Pemuda di depannya hanya memandang.
Sebatang rokok melekat di sudut bibirnya.
"Halo, Ray," bisik Vinny. Ray melepas rokoknya dan tersenyum.
"Halo, Vinny."
Si gadis terkekeh geli. Matanya menangkap tatapan jenaka si pemuda.
"You're so great," bisik si gadis lagi. Ray nyengir.
"Yeah. Kamu juga."
Vinny mendudukkan tubuhnya. Ray menyodorkan bra si gadis.
"Mau membantu?" tanya Vinny, melemparkan tatapan manja. Sambil tersenyum, Ray mematikan rokoknya di asbak, lalu mendekat.
"Kamu ngga marah, Ray? Seharusnya kamu marah," Vinny berkata, sementara Ray membantu memasangkan bra-nya. Si gadis dengar si pemuda tertawa renyah.
"Hahaha. Untuk apa marah?"
"Aku sudah mempermainkanmu."
"Ah, hanya itu saja kok dipikirin."
"Kamu kehilangan sahabat-sahabatmu?"
"Santai. Aku saja ngga bingung. Kenapa kamu harus?"
Vinny membalikkan tubuh, menatap si pemuda dengan heran.
"What?" tanya Ray sambil nyengir.
"Bener kamu ngga marah?"
"Ngga," ucap Ray. Nadanya mantap.
"Kenapa?"
Si pemuda hanya diam. Mereka saling tatap. Mau tak mau, Vinny merasa bingung sendiri. Seharusnya Ray marah padanya. Bahkan malah menempeleng. Sudah wajar ia terima itu. Tapi nyatanya, pemuda itu malah mesam-mesem menatapnya.
Pandangan yang entah bagaimana membuat dirinya begitu kecil.

"Karena kamu wanita," Ray berkata, lalu bangkit berdiri.
"Tunggu," Vinny meraih lengan Ray. Pemuda itu menoleh.
Vinny menatap, masih tak percaya. Penasaran.
"Hanya itu saja?"
"Yap," sahut Ray, "dan sebaiknya kamu pulang sekarang."
Genggaman di lengan si pemuda terlepas.
"Aku akan mengatakan pada semua orang, bahwa kamu memperkosaku."
"Katakan saja," sahut Ray, sibuk mengacak-acak tumpukan pakaian bersih yang sudah diletakkan Bik Sumi di depan pintu kamarnya. Vinny menghentakkan kakinya ke lantai.
"Aku akan mengatakan kau yang menghamiliku! Kamu tadi keluar di dalam!"
Ray menoleh. Vinny tersenyum puas, melihat pemuda itu melongo. Mendadak Ray tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha!! Bukannya kamu baru mens? Tuh, masih ada softex satu di tasmu."
Gantian Vinny yang merasa bodoh. Gadis itu mencak-mencak dan mengerang.
"Kurang ajar! Tahi sapi!" makinya gusar.
"Hush!" Ray berseru, "Cewek kok ngomongnya kasar gitu."
"Biarin!"
Ray tergelak. Meraih keluar sebuah baju yang bersih, lalu melangkah mendekat. Wajahnya terlihat serius. Vinny sedikit ketakutan.
"Nih," Ray melemparkan baju itu kepada si gadis, "kamu pakai saja." Vinny bengong, menatap kaus bergambar Garfield nyengir di atas pangkuannya.
"Baju cewek?"
"Bajunya kakakku. Sudahlah. Pakai saja. Bajumu kena injek tadi, udah kumasukin mesin cuci. Besok aku antar ke rumahmu."
"Tapi...."
"Atau kamu mau telanjang keluar rumah?"
Vinny terdiam. Tak mampu mengatakan apapun.

Ray meraih celana dalam si gadis dari atas meja.
"Buka kakimu!" ucap si pemuda seraya berjongkok di depan si gadis. Vinny tak bisa berkata-kata. Entah mengapa, gadis itu membuka kedua pahanya, dan membiarkan si pemuda memasangkan celana dalamnya sampai ke paha.
"Nah, sampai di situ, pakai sendiri. Kamu sudah besar."
Vinny terpana sesaat. Lalu gadis itu mengerang.
"Waaaaa!!!!" Dan Vinny pun menangis. Merasa dipermalukan. Jengkel bukan main.
"Hey, hey. Jangan nangis di sini," Ray berkata. Sekejap kemudian, pemuda itu sudah duduk di samping si gadis yang masih terisak.
"Sini, biar kupeluk," bisiknya, lalu meraih bahu Vinny.
Vinny meletakkan kepalanya di dada si pemuda, lalu menangis menggerung-gerung.
Ray terkekeh, mengelus rambut gadis di dekapannya.
"Kamu kenapa, he? Kok nangis? Santai saja. Masih ada hari esok. Lihat ke depan, matahari masih bersinar. Jalan masih panjang. Byurrr...byurr....."
"Apa itu byur-byur?" tanya Vinny sambil terisak.
"Itu suara debur ombak memecah karang. Dramatis, kan?"
Mau tak mau Vinny tertawa geli. Jarinya mencubit dada si pemuda, yang lalu menggelinjang sambil tertawa-tawa. Seperti disambar petir, Vinny terkejut. Apa yang baru saja ia lakukan? Ia bermanja-manja!!
Astaga!!
Gadis itu menarik tubuhnya dari si pemuda. Mengusap air matanya. Memandang dingin kepada wajah yang masih menyeringai di depannya. Lengan si gadis melayang, hendak menampar.
Belum sampai ke pipi si pemuda, lengan itu tertahan. Pemuda itu tak mengelak.
Tak juga berkedip. Vinny kehabisan akal. Benar-benar kehabisan.
"Kamu...kamu...," si gadis terbata-bata.

"Sini," Ray meraih baju di pangkuan si gadis, "aku bantu pakaikan." Vinny cepat merebut baju itu.
"Aku pakai sendiri," katanya ketus. Ray angkat bahu, "Terserah."
Pemuda itu lalu bangkit berdiri, dan menghilang ke ruangan lain.
Vinny mengenakan pakaiannya. Lalu memandang ke sekeliling. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Tak terasa waktu berlalu sekian lama, sejak kedatangannya pukul setengah tiga, siang tadi. Benak Vinny berkecamuk.
Pemuda itu! Pemuda brengsek itu!! Grrrr..... batinnya menggeram.
Tak pernah seumur hidup ia merasa begitu malu.
Apa yang terjadi dengan dirinya? Bahkan menampar saja ia tak sanggup!
Tengah ia melamun, mendadak ia merasakan sebuah kesepian.
"Ray?" panggilnya. Tak ada jawaban.
"Ray??" panggilnya sekali lagi. Masih juga tak ada jawaban.
Vinny bangkit berdiri, dan melangkah, kearah mana Ray tadi menghilang. Melongok kesana kemari, gadis itu tak menemukan sosok si pemuda.
"Raaaayyy!!" Vinny menjerit. Jantungnya mulai berdebar.
Ia tak ingin sendirian.
Kakinya melangkah ke ruang tamu, lalu ke luar rumah.
"Ray?" panggilnya di luar. Air matanya serasa hendak tumpah lagi. Mendadak pintu pagar terbuka. Ray masuk sambil bersiul-siul.

"Kurang ajar! Jangan tinggalkan aku sendiri!" Vinny berseru, berlari menghampiri si pemuda. Ray terkekeh.
"Gitu aja nangis," godanya. Vinny merengut, membersihkan sudut matanya yang memang terasa sedikit basah.
"Kemana kamu tadi?"
"Aku? Aku beli ini," ucap Ray seraya mengangkat sebuah kantung plastik hitam. Vinny mencium aroma masakan Padang. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Ia lapar. Seolah tak memperhatikan, Ray melangkah masuk ke dalam rumah.
"Tunggu!" Vinny berseru dan menyusul.

-o-

"Enak?"
"Mmm...," Vinny menganggukkan kepalanya, makan dengan lahap. Pemuda di depannya terkekeh.
"Ini masakan Bang Hasan, terkenal enak sekompleks."
Vinny hanya diam saja, tangannya mencuil sepotong daging rendang. Lagi-lagi si gadis terheran-heran. Inilah kali pertama ia makan dengan tangan. Di rumah, selalu tersaji sendok dan garpu di samping piring. Selama ini, ia selalu menganggap makan dengan tangan itu jorok. Tapi....ternyata enak juga. Dan sambal hijau yang tampak mengerikan ini, jauh lebih gurih dari sambal botol.
"Hehehe. Makanmu kayak kuda," terdengar Ray berceloteh.
Vinny mengangkat kepala, menatap gusar. Syut! Pangkal terong melayang. Ray menghindar, lalu terbahak-bahak. Vinny menggurutu sambil mengunyah. Benci benar dia sama pemuda cengengesan itu.

"Nanti cuci tangan di belakang, ya?" ucap Ray seraya bangkit berdiri. Pemuda itu meremas kertas pembungkus makanan menjadi gumpalan kecil sebesar kepalan tangan. Vinny melihat pemuda itu berlalu.
"Tunggu!" seru si gadis, lalu menyuapkan sisa nasi ke mulutnya dan mengunyah sebongkah besar daging. Pipinya jadi menggembung. Meraih kertas di lantai, Vinny menyusul Ray. Takut kalau pemuda itu menghilang lagi.
Saat gadis itu melintasi pintu belakang, langkahnya terhenti.
Di depan matanya, Ray sedang membungkuk. Kedua tangan pemuda itu diletakkan di bawah air yang mengucur dari kran. Dua kali gosok, pemuda itu tempelkan telapak tangannya ke sisi wajah, dan menarik rambutnya ke belakang. Beberapa hela rambut panjang yang basah terjatuh kembali ke depan wajahnya. Bibirnya separuh terbuka dan matanya terpejam.
Vinny tertegun.
Pemuda itu.... begitu mempesona.
Jantung si gadis berdegup lebih kencang. Terbayang di ingatannya, pengalaman tadi siang. Saat ia bercinta dengan pemuda itu. Suatu kesalahan besar, kah?

Mendadak Ray menoleh, membuat si gadis terkejut.
"Sini. Buang sampahnya di situ," ucap si pemuda, seraya telunjuknya mengarah pada tempat sampah plastik di samping kamar mandi. Vinny meletakkan gumpalan kertasnya di tempat yang dimaksud, dan menghampiri si pemuda.
Ray meraih lengan gadis di sampingnya, menarik hingga Vinny membungkuk.
"Cuci begini," Ray mengusap tangan si gadis di bawah air. Vinny menatap pemuda itu tanpa berkedip. Wajah pemuda itu seperti ditaburi manik-manik berkilauan.
Cring..cring...si gadis merasa silau.
"Pakai sabun," terdengar Ray berkata lagi.
"Tunggu," tiba-tiba Vinny berbisik. Menarik tangannya.
Gadis itu menundukkan kepala. Menggigit bibir bawahnya.
"Ada apa?" Vinny mendengar Ray bertanya.
Vinny angkat kepalanya. Dan satu pelukan di tubuh si pemuda, Vinny menangis sesunggukan.
"Ray, maafin Vinny, ya. Maafin. Kamu baik...kamu baik banget.. sori...."
Elusan jemari si pemuda mendarat di ujung rambut si gadis.
"Ini bukan tipu daya kamu lagi?" Suara si pemuda terdengar garing. Vinny menggelengkan kepalanya cepat-cepat.
"Ngga! Vinny ngga bohong! Vinny ngga bohong!"
"Bohong! Buktinya bajuku belepotan bumbu! Enak saja, memangnya aku lap?"
Vinny tertawa sambil terisak.
Bulu kuduk si gadis merinding beberapa saat kemudian.
Pemuda ini... bisa membuatnya menangis. Tak hanya karena sebuah kejengkelan belaka, namun satu rasa yang lain juga. Yang lebih aneh dari sekedar merasa kalah.

Berdua mereka berpelukan di depan kran air yang masih menyala.
So romantic.

CHAPTER VIII
Just put it to the right place

Vinny tak melepaskan pelukannya di pinggang si pemuda. Angin yang berhembus dan kehangatan tubuh Ray nyaris membuatnya terlena. Hatinya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Apa yang sedang terjadi? Apa yang sedang kualami? Bagaimana semua ini terjadi? Di mana letak salahnya? Apakah kedatanganku bagaikan mendatangi bahaya? Sejak kapan bahaya membuatku jatuh bangun? Kekecewaan di hatinya, ketika pertanyaan itu tak kunjung terjawab, sementara sepeda motor sudah berhenti melaju.
"Ini rumahmu? Besar juga. Kamu tajir."
Vinny menggeleng, pipinya masih menempel di punggung Ray.
"Ngga. Aku biasa saja. Yang kaya itu Papa."
Deg! Jantung Vinny terasa hendak berhenti. Sekarang kemana arogansinya?
"Kamu turun, nanti keburu kemalaman."
Vinny beringsut turun, sedikit ragu. Tak ingin kehilangan. Jemarinya memegang jaket si pemuda, tak mau melepaskannya.
"Hey, aku mesti pulang," cengir Ray.
Vinny menundukkan kepala.
"Ray, kita bakal ketemu lagi, kan?"
Ray tertawa, "Pertanyaan bodoh."
Vinny angkat kepalanya, "Aku...aku....."
"Hey," Ray menyela, "tahu rasanya ditolak?"
Vinny tersentak. Genggamannya di jaket si pemuda terlepas. Jarinya terasa beku.
"Jangan katakan, Ray...," desisnya. Hatinya galau seketika. Mengerikan, saat ia bahkan tak menyadari apa yang dirasakannya saat itu.

Ibu jari si pemuda menempel di mata si gadis, menyapu air mata yang entah sudah berapa kali menitik turun.
"Mempermainkan, itu boleh. Menyakiti, itu jangan. Ingat itu baik- baik. Gunakan otak, jangan melulu niat. Semua orang punya perasaan. Baik itu pria, atau wanita."
Vinny terdiam, memainkan ujung kaus bergambar Garfield.
"Kamu boleh nakal. Siapapun boleh nakal. Aku juga. Tapi jangan sampai nakal itu membuat susah orang lain. Bagaimana? Nakal yang ehm... baik?"
Vinny mengangguk lemah. Merasa begitu kekanak-kanakan, saat apa yang sering dikatakannya pada sahabat-sahabatnya, berbalik di telinganya.
"Ray.." bisiknya, "tentang Hilda dan Johan... aku....."
"Tenang saja. Cukup dengan kamu berdiam diri, semuanya akan baik-baik sendiri."
Setelah berkata demikian, si pemuda menarik gas, kucing hijau meraung.
"Venus," Ray menyebut si gadis, "bersyukurlah kamu tak pernah ditolak." Vinny tersentak. Mengangkat kepala. Melihat Ray nyengir.
"Ray..," si gadis berbisik. Tapi pemuda itu, dengan meleletkan lidah, menarik gas dan melajukan kucing hijaunya. Vinny mengejar. Satu kata dalam hatinya, yang mati-matian dialihkannya sejak tadi, ia teriakkan......
"RAAAYY!!! AKU BENCI KAMUUUUU !!!"

Dari jauh, si gadis dengar suara tawa.
Vinny jatuh berjongkok. Memeluk kedua lututnya.
"Ray..aku benci...kamu.....jahat...jahat sekali..."
Ia terisak. Dendam membara seketika. Benci.... benar-benar... cinta....??
Saat itulah secarik kertas menyita perhatiannya.
Gemetar, jemari si gadis menjumput.

...Wanita (begitu bunyi surat yang dibaca Vinny...
..................begitu kalian terlihat lemah, kalian begitu menarik
..................bagai bunga mekar yang siap untuk dipetik
..................ah, malangnya
...Wanita
..................yang cantik dengan reputasi buruk
..................mungkin tetap laris
...Pria
..................yang tampan dengan nama buruk
..................tapi punya otak
..................juga tetap laris
...Pria
..................punya mulut
..................bisa menggossip, bisa memfitnah, sejahat-jahatnya
..................tapi ia masih punya harga diri untuk berdiam
...So...
..................aku pasti jaga mulutku baik-baik
...Ray
..................milik semua gadis, yang punya harga diri

Vinny meraung. Sesaat kemudian mendesis.
"Aku takkan...takkan pernah... melepaskanmu...bangsat!"

Dia...kalah. Total.

-o-

sebuah telepon umum pinggir jalan, kemudian...

"Jadi kamu ngga mainin si Vinny?"
"Ngga. Itu kan hanya helahnya dia saja. Aku sudah bilang, kan, kalau tuh cewek ngga bisa diajak terlalu serius. Aku pernah nolak dia, itu benar. Ntar kuceritain deh. Udah lama banget, aku sampai lupa. Dia sewot kali. Trus dendam kesumat. Kebetulan liat aku di pesta ultahmu, jadi keinget. Bayangin deh, mana mungkin cowok kayak aku bisa mainin cewek macam Vinny? Dia kan superior. Sekarang, maksudku. Dulu ngga."
"Tapi ceritanya tentang kamu itu...."
"Da, si Vinny itu cerdas ngga sih, menurutmu?"
"Cerdas?
"Dan rese."
"Eh, iya juga sih. Vinny memang anaknya sedikit rese."
"Nah tuh."
"Jadi?"
"Gimana kalau kamu usir tuh kingkong. Kasih seribu, suruh beli permen."
"Raaaay! Itu Papaku!"
"Hehehe. Aku ke sana, ya?"
"Malam gini?"
"Lewat jendela. Aku kan ninja turtle."
"Kura-kura!"
"Kugigit bibirmu!"
"Sini! Kalau berani!"
Lalu hening.
"Ray....kamu beneran, ngga...."
"Da, aku ke sana, ya?"
"........"

Ray meletakkan gagang telepon sambil cengar-cengir. Sekarang tinggal mengarang cerita, bagaimana dulu ia sempat nolak seorang gadis bernama Vinny. Waktu SD. Lucu, kan? Lalu bagaimana caranya supaya Hilda ngga dekat-dekat lagi dengan Vinny. Soal mudah. Tusuk sana, tusuk sini. Cewek kan gampang cemburu. Apalagi dengan Vinny yang begitu superior. Bisa-bisa malah Hilda yang nyuruh dia jangan deket-deket sama Vinny.
Geli sendiri, Ray cekikikan. Percaya diri.
Tentang Johan dan yang lain-lain, Ray yakin, mereka sudah ngga percaya sama tipuan Vinny, bayangan tentang si gadis yang memutuskan Johan gara-gara digoda oleh makhluk tampan bernama Ray. Ini tinggal masalah waktu. Asal dia ngga kelihatan dekat-dekat Vinny, toh lambat laun mereka akan lupa. Sahabat lebih penting dari wanita, seperti yang sudah diwanti-wanti Kemal pada mereka.

Tentang Vinny? Gadis itu akan hidup lebih lama dengan penasarannya. Dikejar-kejar? Ray tidak takut. Malah lebih asik seandainya punya kekasih yang bisa ditiduri tiap saat. Digosipin? Tambah asik. Ray ngga takut bakal kesusahan dalam membuktikan fitnah-fitnah keji. Banyak gadis pasti mau liat `anu'-nya.
Lebih banyak lagi yang mau disosor.
Mungkin Johan bisa keder. Tapi Ray bukan Johan. Jauh dari itu.
Vinny akan tetap tutup mulut. Gadis itu punya harga diri yang terlalu tinggi.
Dan sekali lagi.... ia sedang berkutat dengan satu rasa. Jatuh cinta. Sukurin, maki Ray dalam hati.

Mau ngerjain Ray, mesti berguru sepuluh tahun lagi.

Menepuk kepala, Ray bergumam.
"Kenapa ya, keberuntungan selalu bersama Ray?"
Lupa sudah pada hari `apes'-nya tempo hari.
Tawanya membahana, kucing hijau meraung.
Angin malam behembus. Bulan sabit terkekeh melihat kenyataan hidup. Begitu pula polisi-polisi di warung kopi yang kebetulan pingin ngopi gratis lagi.

4 comments:

KOmmand yu...!!!