Wednesday, February 3, 2010

Yu Nem, Pembantuku

AKU terjaga saat kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakiku.
"Gus .... bangun, sudah sore. Mandi dulu. Ayo... bangun." Aku terbangun. Yu Nem berdiri di ujung tempat tidurku. Tangan kanannya mengguncang-guncang kakiku. Aku meliukkan badan, dan mataku terpejam lagi.
"Heeeh... ayo bangun. Mandi dulu," Yu Nem kembali mengguncangkan kakiku.
Aku membalikkan badan. Enak sekali tidurku. Rasanya masih ingin tidur lagi. Kulirik jam dinding menunjuk pukul 4 sore lebih.

"Bu Lik sudah pulang, Yu?" tanyaku. Yu Nem menggeleng, dan kembali memintaku mandi. Oh ya, umurku waktu itu masih 12 tahun, masih kelas 6 SD. Yu Nem adalah salah satu pembantu kami (baca cerita sebelumnya: "Dipaksa Melayani Bu Lik"). Umurnya sekitar 30 tahun. Dia sudah lama ikut kami. Dia satu dari tiga pembantu kami. Yu Nem bertugas melayani keperluanku dan keperluan Bu Lik. Mulai dari mempersiapkan keperluan mandi, makan, apa saja. Karena itu aku lebih dekat dengan Yu Nem daripada dengan Mbah Karso atau Yu Parmi.
"Bu Lik kok belum pulang to Yu?" tanyaku. Yu Nem duduk di tepi ranjang.
"Mungkin sampai malam. Kan kulakannya ke Praci."
Bu Lik adalah pedagang hasil bumi. Selain menerima setoran hasil bumi dari para petani, seringkali Bu Lik "hunting" dagangan sampai ke kota-kota kecamatan. Sesekali aku diajak.
"Ayo mandi dulu Gus," kata Yu Nem. Aku pun beranjak. Yu Nem mengangsurkan handuk, dan aku menuju kamar mandi. Yu Nem mengikutiku.
"Kok sepi?" tanyaku.
"Mbah Karso sama Parmi lagi nagih."
Mbah Karso dan Yu Parmi adalah dua pembantu kami lainnya. Beberapa pengrajin tempe dan tahu seringkali ambil kedelai dari Bu Lik, dan bayarnya beberapa hari kemudian. Para pembantu kami seringkali yang disuruh menagih.
Selesai mandi, ini yang tak aku sangka-sangka, Yu Nem bertanya, "Kangen sama Ibu ya?" Ibu yang dimaksud perempuan itu adalah Bu Lik. Pertanyaan Yu Nem bernada menyelidik, sedikit meledek. Dia tersenyum penuh arti. Aku menyambar koran, dan duduk di bangku teras. Aku paling sedang komik serial Tarzan. Biasanya sore begini aku membaca bersama Bu Lik. Yu Nem di sebelahku.
"Ayo cerita dong Gus," katanya.
"Cerita apa?"
"Cerita Gus sama Ibu." Aku terperanjat. "Yu Nem tahu kok Gus. Mbah Karso, Parmi juga tahu. Tapi tenang saja, rahasianya aman."
Aku benar-benar mati kutu. Rupanya perzinaanku dengan Bu Lik sudah diketahui ketiga pembantuku.
"Kalau sudah tahu ya sudah. Napa suruh cerita," sahutku agak kesal. Yu Nem tersenyum.
"Pengin denger saja. Sudah pinter ya Gus?"
"Apaan sih?" aku terus menatap koran, tapi pikiranku agak kacau.
"Ehh tapi jangan bilang ke Ibu yaa kalau kami sudah tahu." Aku diam saja. "Bener lho jangan bilang." lalu Yu Nem pergi.
Malamnya, aku belajar ditunggui Yu Nem. Dari dulu memang begitu. Kalau Bu Lik kecapekan dan tak bisa menunggui belajar, disuruhnya Yu Nem menungguiku. Waktu kelas satu sampai kelas dua SD perempuan itu malah kerap membantuku mengerjakan PR atau membantuku membetulkan cara membaca. Tetapi setelah kelas enam, dia mulai tidak bisa mengikuti pelajaranku. Maklum, dia cuma sekolah sampai kelas empat SD.
Sekitar jam 9 aku mulai ngantuk dan menyudahi belajar. Yu Nem membantu mengemasi buku-bukuku. Aku pun beranjak ke kamar.
"Mau ditemani bobo ndak Gus?" tiba-tiba Yu Nem bertanya. Dulu waktu masih umur 7-8 tahun aku sering tidur dikeloni Yu Nem. atau Bu Lik Tapi semenjak kelas lima, aku sudah tidur di kamar sendiri. Entah kenapa, rasanya pengin juga seperti dulu, tidur ditemani Yu Nem. Beda dengan Bu Lik, Yu Nem kalau ngeloni suka sabar. Sering mendongeng sambil mengusap-usap penggungku, dan aku memainkan ujung sikunya. Sampai tertidur.
"He-eh" kataku.
Aku merebahkan tubuh di ranjang. Yu Nem juga rebahan di sebelahku. Kami tidur satu bantal karena memang hanya ada satu bantal di tempat tidurku. Aroma perempuan ini belum berubah. Rambutnya berbau minyak cem-ceman. Minyak ini terbuat dari minyak kelapa dicampur daun pandan dan rempah-rempah lain. Dia mengenakan kemeja lengan pendek, dan jarik yang digulung sebatas pusar. Semua pembantuku kesehariannya ya begitu. Jariknya sedikit di bawah lutut.
Yu Nem meraih tubuhku, dan mengelus-elus punggungku.
"Sudah lama ya Gus, ndak bobo sama Yu Nem. Wajahku hanya beberapa inci dari wajahnya. Terasa lembut nafasnya. Bau nafasnya gurih. Rasanya amat menenteramkan.
"He-eh," sahutku pendek sambil memejamkan mata.
"Berapa kali gituan sama Ibu?" pertanyaan itu menyentakkanku, menghilangkan kantuk. "Ndak pa-pa cerita sama Yu Nem." Dia menunggu reaksiku. Tangannya masih mengelus-elus punggungku. "Sudah ndak kehitung ya? Ati-ati ya Gus, nanti kayak Gus Bambang, ketahuan terus diusir. Semua kena malu."
"Memangnya Mas Bambang juga gituan sama Bu Lik?" tanyaku ingin tahu. Aku memang mendengar selentingan kasus itu. Tapi karena umurku yang belum cukup mampu mencerna pembicaraan orang, aku tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Iya. Dasarnya Gus Bambang ndak bisa menjaga rahasia, jadi yaa rahasianya kesebar." Lalu Yu Nem bercerita panjang lebar tentang skandal Bu Lik dengan Mas Bambang, sepupuku yang berarti juga masih keponakan Bu Lik. Yu Nem juga bercerita bagaimana Mas Bambang pun pernah meniduri Yu Nem dan Mbah Karso.
"Yu Nem kok mau?"
"Yaa ndak berani nolak to Gus," jawabnya.
"Berapa kali Yu?"
"Ahh banyak." Lalu Yu Nem memintaku bercerita tentang perzinaanku dengan Bu Lik.
"Malu Yu ahh," sahutku.
"Kok malu, Yu Nem juga sudah cerita." Lama aku terdiam.
"Ayo cerita." Yu Nem mencubit hidungku. "Pertamanya dipaksa ya?"
"He-eh," sahutku. Yu Nem tertawa kecil.
"Lama-lama Gus yang minta?"
"Ndak. Ndak berani to Yu."
"Disuruh cium-cium anunya Ibu juga?"
"Ihhh kok Yu Nem ..."
"Dulu Gus Bambang suka cerita kok." Aku heran, kok Mas Bambang bisa cerita ke Yu Nem. Pantesan affairnya dengan Bu Lik terbongkar dan menggegerkan keluarga besar Bu Lik.
"Gus ketagihan ndak? Kalau pas pengin gimana? Kan ndak berani minta ke Ibu?"
"Ya diem. Ditahan." Yu Nem terkikih.
"Minta sama Yu Nem to, kayak Gus Bambang."
"Idiih..." Yu Nem tertawa kecil.
"Sekarang lagi pengin ndak?" Aku diam tak menjawab.
"Mumpung ada Yu Nem...." Kalimat itu membuatku tergetar.
"Yu Nem mau kok Gus." Tiba-tiba kurasakan elusan Yu Nem terasa aneh. Membuat bulu-bulu di tubuhku meremang. Darahku berdesir. Dan tak kuduga, Yu Nem mencium bibirku. Lembut. Lidahnya menerobos ke dalam mulutku, mencari-cari. Dihisapnya bibirku, dicarinya lidahku. Kami berpagutan. Tangan Yu Nem berpindah ke perutku, mengusap, meremas, dan menerobos masuk ke celana.
"Sama Yu Nem ya Gus?"
Tanpa menjawab aku membuka kancing baju Yu Nem, dan mengeluarkan sepasang tetek dari dalam kutangnya. Aku menghisapnya, memilin dan menggigitnya. Yu Nem mendesah-desah. Tangannya meremas penisku. Disingkapnya jariknya hingga menampakkan paha yang padat dan mulus. Dia lepas CD-nya, dan meraih tanganku, dibawanya ke selangkangan. Lalu dilepasnya celanaku.
Terasa penisku masuk ke dalam mulut hingga terdengar bunyi yang menggairahkan. "Crop...cropp..."
Yu Nem memutar tubuhnya, mengarahkan vaginanya tepat di depan mulutku. Lalu ditekannya pinggul, hingga vagina itu menempel di mulutku. Refleks lidahku terjulur. Yu Nem mengerang keras. Di tekan lagi, dan digoyangkannya pantat bulat itu. Aku coba menghindar karena nafasku jadi sesak. Tapi Yu Nem kembali menekan sambi terus melumat penisku dengan rakus.
Perempuan itu adalah janda yang sudah lama cerai dari suaminya. Mungkin dia memang sangat butuh sentuhan seperti halnya Bu Lik. Bedanya, Bu Lik bisa melampiaskan ke aku atau Mas Bambang, dan mungkin ke lelaki lain. Sedangkan Yu Nem, mana bisa. Kini di hadapannya ada aku. Lelaki kencur tapi sudah mahir bersenggama.
Yu Nem mengangkat pantatnya, dan "Gus.. digigit itilnya." Aku menggigit lembut itil itu. Aromanya memang tidak sewangi vagina Bu Lik. Tapi sangat terasa lubangnya masih sempit. Vagina yang belum pernah mengeluarkan bayi. Yu Nem kembali mengerang. Penisku disedot kuat-kuat. Aku lap vaginanya yang basah lendir bencampur ludahku dengan ujung jariknya, lalu kujilat-jilat lagi. Nafsuku sudah sampai di ubun-ubun. Yu Nem membalikkan badan. Dipegangnya penisku dan diarahkan ke lubang vaginanya. Samar-samar aku lihat wajahnya meringis seperti menahan sakit. Dia berhenti sejenak, lalu mencoba menekan vaginanya. Ujung penisku mulai masuk. Dia kembali mendorong sehingga seluruh penisku masuk. Aku tidak tahu kenapa vagina Yu Nem begitu sempitnya, sampai-sampai penisku yang sebenarnya tidak besar pun sulit masuk. Maklum umurku masih 12 tahun, dan belum disunat.
Begitu seluruh penis tenggelam dalam vaginanya, Yu Nem menggereng. Seperti suara kereta api. Dia mencengkeram lenganku. Ditekannya tubuhnya seolah ingin menelan habis tubuhku. Digoyang-goyang tubuhnya.
Ahh Yu Nem memang tidak semahir Bu Lik. Ketika dengan Bu Lik, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa sehingga cepat sekali keluar. Seringkali ketika ronde kedua baru Bu Lik mencapai puncaknya. Kini Yu Nem sepertinya sudah sampai di puncak, sedangkan aku belum apa-apa. Perempuan itu lemas di atas tubuhku.
"Gus belum keluar?"
"Belum."
Dia membalikkan badan, telentang, dan memintaku menaiki tubuhnya.
"Pelan-pelan ya?" katanya sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Aku menekan penisku. Yu Nem merintih menahan sakit. Dia memintaku pelan-pelan. Belakangan baru aku tahu, rasa sakit itu dikarenakan dia sudah lama tidak gituan, sehingga lubang vaginanya seperti menyempit.
Ketika seluruh penisku berada dalam cengkeraman vaginanya, akupun mulai memompa. Mula-mula dia terlihat pasif. Tetapi lama-lama kurasakan dia kembali terangsang dan mengimbangiku. Keringatnya bercucuran, menimbulkan aroma yang menyengat. Dalam kondisi normal mungkin aku muak dengan bau itu. Tetapi di tengah nafsu yang menjeratku, aku sangat menikmati aroma itu. Bahkan kemudian kuangkat tangannya sehingga nampak sepasang ketiak yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat. Aromanya benar-benar menyengat tajam. Aku benamkan wajahku ke ketiak itu. Dia menggelinjang menerima jilatanku. Aku terus menggenjot dengan hebat.
"Ohhh Gus.. Yu Nem ndak tahan lagi..."
Beberapa saat kemudian aku mengejang.
"Buang di luar Gus..." kata Yu Nem. Sepertinya dia tahu apa yang akan terjadi. "Nanti Yu Nem hamil. Buang di perut..."
Aku tarik keluar penisku, aku tempelkan di perutnya, dan aku tekan dengan kuat, merasakan semprotkan maniku. "Creettt.....crettt..."
Aku dipeluknya dengan erat, dan diciumnya wajahku, bibirku, kupingku. Aku jatuh telentang di sebelahnya. Tanpa kuduga, dia hampiri penisku, dan dihisap-hisapnya sisa-sisa maniku. Juga sebagian yang ada di perutnya.
Malam itu aku tertidur pulas. Aku terbangun oleh suara Bu Lik, memintaku segera mandi. Sekilas kulihat wajah Bu Lik menegang. Mungkin kecapekan dari bepergian. Tetapi memang ada yang ganjil. Suaranya amat berat. Dia seperti menghardikku....
Pulang sekolah barulah semuanya terjawab. Yu Nem menyeretku dengan wajah tegang.
"Jangan cerita ke Ibu bahwa Gus sama Yu Nem gituan," katanya. Perempuan itu bercerita bahwa pagi tadi dia dipanggil Bu Lik, diinterograsi. Ditanya kenapa Yu Nem tidur di kamarku. Mula-mula Yu Nem mengelak. Tapi Bu Lik bilang, bantalku beraroma minyam cem-ceman. Satu-satunya yang dituduh adalah Yu Nem karena dia yang paling dekat denganku. Akhirnya Yu Nem mengaku bahwa dia memang tidur di kamarku karena aku yang minta ditemani. Tidur biasa, tidak ngapa-ngapain.
"Bener ya Gus, jangan bilang. Pokoknya jangan ngaku." Wajah Yu Nem benar-benar tegang. Aku sendiri merasa sangat takut. Takut gagal membohongi Bu Lik.
Malamnya, di kamarku Bu Lik menanyaiku. Karung bantal sudah tak beraroma cem-ceman lagi. Sudah diganti.
"Kenapa Yu Nem tidur di sini tadi malam?" tanya Bu Lik.
"Saya takut Bu Lik. Sepi sekali tadi malam ndak ada Bu Lik," jawabku berbohong dengan kecemasan yang seakan hendak membunuhku.
"Ndak boleh. Gus ndak boleh tidur dengan pembantu. Ngerti?!" Aku mengangguk.
"Gituan sama Yu Nem ya?" tanyanya. Aku memang sudah menduga akan ditanya begitu. Tapi tetap saja aku amat takut, berdebar-debar. Ngeri.
"Ndak kok Bu Lik. Saya ndak mau to."
"Sumpah?"
"Iya sumpah Bu Lik." Perempuan itu menarik nafas, lalu mencium pipiku.
"Bu Lik ndak mau kamu gituan sama perempuan lain. Sama Bu Lik saja." Dia memagut bibirku. Malam itu aku disetubuhi Bu Lik.
Sejak peristiwa dengan Yu Nem, aku memang sangat ingin mengulangi. Kesempatan kecil selalu kami gunakan. Kadang-kadang di dalam kamar Yu Nem di tengah malam buta. Tapi seringnya di gudang, di antara tumpukan karung-karung palawija, dalam kegelapan. Setelah selesai, kami menyelinap keluar, persis maling....***

2 comments:

KOmmand yu...!!!